Ketiban Rezeki di Musim Durian

# Minimal Rp150 Ribu per Harinya
Saat musim buah durian (duren) seperti saat ini, warga di Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, ketiban rezeki. Tidak hanya pemilik kebun durian, warga yang tidak memilki kebun durian pun masih dapat menikmati rezeki dari musim durian ini. Berikut laporannya.

Rudi saat mengaduk lempok di tungku perapian

Rudi saat mengaduk lempok di tungku perapian. Foto HS

JIKA pemilik kebun durian dapat langsung menjual buah durian ke pengepul untuk dikirimkan ke kota-kota besar seperti Palembang dan Bandarlampung, atau menjual langsung ke pasar atau menjajakannya ke pengemudi di pinggir jalan lintas tengah Sumatera (Jalintengsum), bagi warga yang tidak memiliki kebun durian, mereka dapat bekerja sebagai pengaduk lempok di usaha-usah pembuat lempok durian yang turut menjamur pada musim durian seperti saat ini.

Seperti yang dilakukan Rudi (40) salah seorang warga Desa Batupanceh Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, dia bekerja sebagai pengaduk lempok di salah satu usaha pembuatan lempok durian di desa yang sama.

Rudi mengaku dapat mengatongi uang minimal Rp150 ribu rupiah perharinya, dari pekerjaannya sebagai pengaduk lempok di usaha pembuatan lempok durian. Dia tidak bekerja sendiri di usaha pembuatan lempok milik Hendri (60) warga yang sama, dia bersama lebih dari 8 (delapan) orang yang lain, juga bekerja di usaha lempok tersebut.

“Tugas kita hanya mengaduk lempok selama dalam proses pembuatannya saat dimasak di tungku api, perkali masak kita dibayar Rp50 ribu. Kalau dulu saya pernah dalam satu hari dapat 5 sampai 6 kali masak, mungkin karena sudah tidak kuat lagi saat ini saya hanya mampu menyelesaikan 3 sampai 4 kali masak,” ungkap Rudi kepada wartawan.

Disampaikannya, proses pengadukan lempok dalam prosek pengeringan di tungku perapian, ini paling cepat 2 jam hingga kondisi lempok yang dimasak tidak lengket lagi di kuali dan setelah itu masuk dalam proses selanjutnya dan dikemas hingga siap jual. “Bahan-bahan pembuatan lempok ini cuma daging buah duren matang pohon ditambah dengan gula pasir secukupnya, diaduk di tungku perapian sedang. Diaduk terus hingga lempok benar-benar kering tidak lengket lagi di kuali, paling cepatlah dua jam baru siap angkat,” jelasnya.

Diceritakannya, pekerjaan sebagai pengaduk lempok ini, hampir tiap tahun dilakoninya. Meski pekerjaan ini cukup menghasilkan uang, dia menyebut musim durian tidaklah lama seiring buah durian di pohonnya habis.

“Paling hanya sebulan, sudah itu kita kembali kepekerjaan biasa sebagai penyadap getah karet. Musim durian dalam setahunya paling lama sebulan ramainya,” sebutnya.

Sementara Hendri, pemilik usaha pembuatan lempok, mengaku dalam satu musim durian, dia hanya mengisi pesanan berdasarkan kontrak yang sudah disepakati sebelumnya dengan pedagang pengepul lempok di Tebing Tinggi.

“Mereka sudah menetapkan kontrak diawal musim dengan saya hingga beberapa ton lempok. Pernah saya mendapat kontrak hingga 50 ton permusim, namun pada tahun ini saya tidak berani kontrak lebih banyak, mengingat ketersedian durian pada tahun ini tidak begitu banyak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Dikatakanya, lempok yang dibuat dan diolah oleh lebih dari 20 orang karyawan di usaha miliknya ini, dipasarkan hingga beberapa kota besar di Indonesia, bahkan sampai ke negeri tetangga. Dia menegaskan, jika lempok yang dibuat di tempatnya ini, tidak menggunakan bahan pengawet apapun, karenanya dia mengatakan jika lempok yang dibuatnya tidak dapat bertahan lama.

“Bahan yang kita gunakan hanya durean matang pohon ditambah gula pasir secukupnya, tidak ada pengawet sama sekali.  Jika ada lempok yang dapat bertahan lama hingga berbulan-bulan itu pasti menggunakan bahan pengawet, kalau lempok kita paling lama dua hingga tiga minggu,” ungkapnya. (**)

 

 

_________________________

 

Sumber : Harian Silampari edisi cetak Senin, 1 Februari 2016

 

 

 

 

 

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Cerito Kite. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s