Melirik Pelaku Usaha Kopi Khas Kabupaten Empat Lawang

Dulu Produksi 2 Minggu Sekali, Kini Sarjanakan 2 Anak

Hasil komoditi perkebunan di Kabupaten Empat Lawang cukup banyak, salah satunya yakni kopi. Masyarakatnya selalu membudidayakan kopi sejak dulu hingga sekarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan banyak diantara mereka menjadi pelaku usaha bubuk kopi. Berikut liputannya. 
Hendro – Empat Lawang
IMG_1054

TEKUN : Kasmin memutar drum khusus berisi biji kopi yang diolah menjadi bubuk kopi khas Empat Lawan.

Kabupaten Empat Lawang merupakan pemekaran dari Kabupaten Lahat. Hasil komoditinya juga tidak kalah dengan daerah-daerah lain di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel). Salah satu hasil komoditinya di bidang perkebunan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah kopi.

Wilayah Kabupaten Empat Lawang yang banyak perbukitan ini, membuat kopi tumbuh subur. Sehingga dijadikan masyarakat sekitar sebagai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing.
Seperti yang dilakukan Kasmin (48), dengan mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi, ia bisa menghidupi keluarga hingga sekarang. Bahkan dua dari empat anaknya sudah sarjana berkat ketekunannya berbisnis kopi bubuk khas Kabupaten Empat Lawang.
“Silakan masuk, lewat pintu depan,” ujar salah seorang yang berada di dalam rumah yang merupakan anak Kasmin ketika koran ini berkunjung kerumahnya.
Rumah Kasmin tidak begitu jauh dari pusat Kota Tebing Tinggi yakni di Jalan Pensiunan, kawasan Sungai Berau Ilir, Kelurahan kelumpang Jaya, Kecamatan Tebing Tinggi. Tempat pengolahan bubuk kopi berada di belakang rumahnya sendiri.
Kebetulan saat itu ia sedang sibuk memasak biji kopi dengan drum yang dibuatnya khusus untuk memasak biji kopi. Saat proses ini api harus stabil, tidak boleh terlalu besar dan terlalu kecil dan drum tersebut harus selalu diputar.
“Harus diputar terus tidak boleh distop, nanti hasil masakan kopinya tidak merata, pasti ada yang gosong dan tidak masak. Jadi tidak boleh berhenti diputar,” ujar Pak Min, panggilan Kasmin sehari-hari.
Suami dari Eni ini menjelaskan sebelum menjadi bubuk kopi yang bagus dan siap dipasarkan, banyak tahapan yang harus dilakukan. Biji kopi yang dibelinya dari petani kopi di wilayah Kabupaten Empat Lawang, sisa-sia kotoranya harus dibersihkan dengan cara ditampi (dibersihkan dengan menggunakan tampah).
Selanjutnya biji kopi dicuci dengan air bersih beberapa kali, setelah itu baru dimasak. Lalu biji kopi yang sudah berwarna kehitaman, digiling menggunakan mesin sehingga menjadi bubuk kopi. Setelah itu baru proses terakhir yakni pengemasan dan siap dipasarkan.
“Sekali masak 70 kilogram biji kopi, jadinya nanti sekitar 50 kilogram bubuk kopi. Masaknya bisa dua hingga tiga jam, drum harus diputar terus,” sambung Min.
Saat proses pemasakan itu tidak boleh dilakukan sendirian, minimal harus dua orang. Sebab membutuhkan tenaga yang cukup banyak dan salah satu dari mereka bisa menjaga api tetap stabil. “Lumayan capek dan menguras keringat, makanya harus ada dua orang ketika proses masak,” jelasnya.
Selain itu kayu bakar jangan sampai kehabisan ketika pemasakan. Jadi di dekat rumahnya sudah siap kayu bakar yang banyak dibelinya dari warga. Arang bekas kayu bakar, tidak ia buang namun bisa dijadikan uang dengan dijual ke pedagang sate, jagung bakar dan lainnya.
Min menceritakan usaha yang ia lakukan ini merupakan warisan dari pamannya yang mulai digelutinya sejak tahun 1986. Awal mulanya dalam seminggu hanya sekali memproduksi bubuk kopi karena pelanggan masih sedikit, namun dengan ketekunannya pelanggannya sekarang sudah banyak.
“Sekarang bisa dua hari sekali masak dan pelanggan sudah banyak. Pelanggan di sekitaran Pasar Tebing Tinggi dan warung-warung di Tebing Tinggi. Bahkan pemasaran saat ini sudah sampai daerah Kikim dan Gumay, Kabupaten Lahat,” jelasnya.
Dalam satu bulan dikatakan Min, ia bisa 20 kali memproduksi kopi dan bisa memproduksi bubuk kopi sekitar satu ton lebih. Permintaan bubuk kopi paling banyak ketika sedang musim buah-buahan.
“Produksi kopi tergantung permintaan juga, tapi paling banyak ketika musim buah-buahan karena orang-orang ingin jaga kebun dan bermalam sehingga menyiapkan bubuk kopi,” katanya.
Dari usaha bubuk kopi asli Empat Lawang inilah, Min bisa menghidupi keluarganya. Bahkan dua anaknya yakni Deni Hidayat dan Dian Saputra sudah sarjana berkat usaha bubuk kopi tersebut.
Sedangkan dua anaknya lagi, Dodi Harianto baru tamat SMA dan akan meneruskan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi dan anaknya yang bungsu Dewinta masih duduk sekolah di salah satu pesantren di Lubuklinggau.
“Dari dulu tidak ada usaha lain, hanya kopi, tapi sekarang ibu (istri,red) juga ada kesibukan jaga warung manisan di rumah juga,” sambungnya.
Dikatakannya kendala-kendala yang dihadapinya dulu hingga sekarang masih banyak. Tapi dihadapinya dengan sabar sehingga datang jalan keluar. Seperti ketika anaknya meminta uang kuliah, saat itu ia cukup kesulitan, namun bisa diatasinya
“Kalau kendala-kendala sampai sekarang masih ada. Tapi tidak menjadikan kita putus asa. Kami ini tidak memiliki kebun kopi tapi selalu buat bubuk kopinya,” pungkas Kasmin sembari melempar senyum.
Anak Kasmin, Deni juga menjelaskan bahkan usaha bubuk kopi keluarganya ini masih tradisional sehingga menghasilkan kopi yang ‎nikmat. Dari proses awal hingga akhir masih dilakukan secara manual dengan melibatkan karyawan dari keluarganya sendiri.
“Usaha bubuk kopi ini masih usaha rumahan. Karyawannya juga minta bantuan dari keluarga. Daripada kita menggaji orang lain lebih baik menggaji keluarga kita sendiri,” tukasnya.  (*)
___________________________
Sumber : Sumatera Ekspres

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Cerito Kite. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Melirik Pelaku Usaha Kopi Khas Kabupaten Empat Lawang

  1. Arta Davin berkata:

    permisi gan, ane punya referensi nih, cara sukses usaha kafe. Abis baca baca tadi. Moga bermanfaat yah infonya :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s