Api Enggan Lahap Rumah Tua

// Rumah Itu Milik Sonda

foto 1

Rumah milik Sonda (80) yang berada persis di belakang rumah korban kebakaran terlihat tak sedikitpun terjilat oleh api.

Dalam setiap musibah, ada saja hal-hal yang diluar penalaran pikiran terjadi hingga menyebabkan orang-orang bertanya-tanya. Seperti terjadinya kebakaran yang menghanguskan 4 unit rumah di Pasar Tebing Tinggi, Jum’at pagi (2/10/2015) sekitar pukul 7.15 WIB, rumah kayu dua lantai berumur ratusan tahun selamat dari musibah. Meski berjarak kurang lebih 3 meter dari rumah korban kebakaran, nampaknya api enggan melahap rumah tersebut hingga satu setengah jam berikutnya api berhasil dipadamkan.

Berikut liputannya.

foto 2

Sonda (80) saat menunjukan dalam rumahnya di lantai satu kepada Harian Silampari, saat terjadinya musibah kebakaran, barang-barang di dalam rumahnya hanya ditutupi dengan kertas koran untuk menghindari debu dan kotoran.

ADALAH rumah kayu dua lantai milik Sonda (80) mantan pemilik pabrik sumpit yang pernah beroperasi di Kecamatan Tebing Tinggi pada era 80an selamat dari musibah kebakaran. Beberapa warga dan saksi mata memprediksi andai saja rumah kayu yang terletak persis di belakang rumah korban tersebut ikut terbakar, maka sangatlah sulit memadamkan api karena jalan yang dilalui sangat sempit hanya bisa dilalui oleh kendaraan kecil sedangkan di lokasi tersebut antar rumah ke rumah sangat padat nyaris tidak ada jarak, sementara mobil Unit PBK tidak mungkin dapat masuk ke lokasi kebakaran.

Ketika ditemui Harian Silampari di rumah miliknya itu, pria keturunan Tionghoa ini ternyata hanya tinggal berdua dengan isterinya. Di lantai dua rumah yang ditempatinya tersebut tidak ditinggalinya lagi, hanya ada foto Paus Paulus II yang terbingkai dan satu buah Salib yang masih setia menempel di dinding dalam rumah yang terbuat dari kayu jenis Merbau (Ipil) itu. Sementara kondisi pintu utama sudah rusak dan di dalam rumah sudah penuh oleh debu.

Dia bersama isterinya lebih memilih tinggal di lantai satu semenjak kelima anaknya sudah berkeluarga dan lebih memilih tinggal di kota lain.

“Anak saya cuma satu perempuan dari lima orang. Mereka sudah berkeluarga semuanya,” ungkap Sonda membuka pembicaraan.

Dia cukup bersyukur karena rumah yang dibangun oleh ayahnya itu selamat dari kebakaran meski berbatasan langsung dengan rumah korban kebakaran. Diakuinya tidak ada jimat-jimat atau sejenisnya yang dia simpan sehingga api tidak membakar rumahnya. “Inilah rahasia tuhan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Jujur saya akui, saat api membesar saya cuma pasrah karena memang tidak kuat untuk melakukan upaya apapun, bahkan barang-barang pun tidak saya keluarkan dari rumah,” ucapnya.

Diceritakannya, jika rumah yang ditempatinya ini, dibangun pada masa penjajahan belanda oleh ayahnya. “Kalau dikatakan Tionghoa saya ini hanyalah keturunannya saja, keturunan keluarga saya sudah membaur bahkan kalau disilsilahkan, dengan ayahandanya Pak HBA (Aljufri Ahmad, Red) itu masih ada ikatan keluarga, namun sudah sangat jauh,” cetusnya.

Disingung dengan kondisi lanjut usia dan jauh dengan anak-anak, dia tidak mempermasalahkan itu sebab masih ada isteri yang setia mendampingi dan ada anak dari saudaranya (keponakan, Red) yang selalu rajin mengunjunginya.

“Saya dan isteri saling urus, nah itu ada anak saya, maksutnya anak dari saudara saya, kapan saja saya minta tolong dia pasti bantu. Saya cukup banga dengan anak saya, meski mereka jauh namun mereka sudah membuat saya banga dengan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat banyak, seperti anak saya yang perempuan itu kini jadi dokter di kota Palembang,” imbuhnya.

Sementara Sopyan (75) sahabat dekat Sonda mengaku langsung mengunjungi kawan dekatnya itu ketika terdengar ada kebakaran di sebelah rumah yang diakuinya kawan karibnya sejak kecil. Dia mengungkapkan jika di rumah kawannya itu masih tersimpan pantung Budha dan inilah menurutnya penolak api sehingga api enggan menjalar ke rumah kawan karibnya itu. Meski diakuinya ketika api sedang membesar, dia sempat naik ke lantai atas menancapkan keris pusaka yang dia punya untuk menolak api, namun apa yang disimpan oleh kawannya di rumah tua itu lebih berperan.

“Beliau (Sonda, Red) masih menyimpan patung Budha, makanya rumahnya selamat dari musibah kebakaran ini. Andai saja rumahnya tadi ikut terbakar, saya yakin seluruh rumah di sekitar sini hingga ke Kelurahan Tanjungmakmur juga terancam habis terbakar,” jelasnya.

Dikatakannya, selain masih menyimpan patung Budha, Sonda dikatakannya masih menyimpan barang-barang keramat lainnya peninggalan kakek buyutnya yang diyakini masih memiliki kekuatan magis. “Sahabat ku ini masih banyak simpanan (benda magis) peninggalan kakek buyutnya, makanya dia tetap tenang meski api nyaris membakar rumahnya,” sebutnya. (**)

_____________________

Sumber : Harian Silampari

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Cerito Kite, Isu. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Api Enggan Lahap Rumah Tua

  1. 「누리」 berkata:

    wah keren yah rumahnya^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s