Kurang Dikenal Karena Lokasinya Terisolir

Melihat Kawasan Pulau Tujuh

Tebing Tinggi-20150624-01302

Aparat dari Polres Empat Lawang bersama dengan Sekcam Tebing Tinggi, Umar Hasan saat berada di kawasan Pulau Tujuh.

Sebelumnya, sebagian besar masyarakat Empat Lawang belum mendengar tentang adanya keberadaan Pulau Tujuh di Kawasan Desa Sugiwaras Kecamatan Tebing Tinggi, namun nama Pulau Tujuh mulai dikenal lantaran adanya tambang galian C yang beraktivitas secara ilegal di kawasan tersebut. Terlrepas dari itu semua, ternyata Pulau Tujuh terpendam pesona yang belum terungkap. Berikut laporannya.

Pulau Tujuh adalah tujuh pulau yang berada di tengah aliran Sungai Musi di wilayah desa Sugiwaras kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang. Antara pulau satu sama lainya berdekatan sehingga masyarakat menyebutnya Pulau Tujuh.

Awalnya, wartawan media ini mendapatkan informasi adanya keluhan warga desa yang memiliki perkebunan di kawasan tersebut tentang adanya pengerukan material galian C yang mengancam keberadaan Pulau Tujuh. Mereka khawatir jika aktivitas pertambangan tersebut dapat membuat tanah di kawasan pulau tujuh tergerus oleh air (abrasi) akibat dampak pertambangan tersebut.

Pada perjalanan menuju Pulau Tujuh harus kami tempuh dengan perjalanan darat sekitar 45 menit dari Tebing Tinggi Ibukota Empat Lawang menuju Desa Sugiwaras. Perjalanan selanjutnya menggunakan perahu sampan bermesin atau masyarakat umum menyebutnya getek atau ketek menyelusuri kearah hulu Sungai Musi sekitar 30 menit hingga akhirnya tiba di lokasi.

Di sepanjang jalan menggunakan getek, kami disuguhi oleh pemandangan alam yang masih asri, termasuk aliran sungai yang tidak terlalu deras cukuplah membuat kami tidak terlalu khawatir jika nantinya perahu getek ini karam atau terbalik lantaran tak mampu menampung muatan tak sulit bagi kami mencapai daratan dengan berenang.

Perjalanan yang cukup jauh kami tempuh ini ternyata tidaklah sia-sia. Di sepanjang perjalanan menggunakan getek ini tampak pemandangan cukup membuat decak kagum, tampak aliran sungai musi yang membelah pulau-pulau tentu membuat pesona bagi yang memandangnya. Terbersit di pikiran, alangkah indahnya kawasan ini jika dikelola dan dijadikan kawasan wisata, tentunya dengan profesional, bukan seperti saat ini dikeruk materialnya secara membabi buta.

“Kawasan ini dinamakan Pulau Tujuh, karena memang pulau yang ada di kawasan ini jumlahnya tujuh buah, semuanya dikelola oleh masyarakat setempat dijadikan kebun atau berladang,” terang Awal (40) sang pengemudi perahu getek menerangkan.

Dikatakannya, meski kawasan ini sangat bagus untuk dijadikan tempat wisata, namun karena masih terisolir banyak masyarakat belum menyadari keberadaan Pulau Tujuh, sehingga nama Pulau Tujuh tidaklah sefamiliar terdengar Pulau Emas atau Pulo Emass yang saat ini sedang digarap oleh Pemkab Empat Lawang untuk dijadikan sentra ekonomi dan pariwisata. “Kalau dibandingkan Pulau Emas, tentu jauh lebih bagus Pulau Tujuh, namun karena tempatnya jauh, tak banyak orang mendengar nama Pulau Tujuh,” imbuhnya.

Sementara Imron, salahseorang Petani yang mendiami salahsatu pulau di kawasan itu mengaku jika Ia sudah lama membuka kebun di kawasan Pulau Tujuh. Selain tanahnya yang sangat subur, kawasan ini Ia miliki secara turun temurun dari nenek/kakek nya.

“Makanya, ketika ada aktivita pengerukan material golongan C di kawasan ini, saya rela mati untuk mempertahankannya, karena inilah warisan dari kakek nenek kami,” tegasnya.

Kawasan pulau tujuh ini cetus Imron para pemiliknya adalah masih terbilang keluarga dekat, oleh karena itulah, jika ada permasalahan yang mengancam keberadaan pulau, mereka cepat bertindak bersama. “Ada sekitar 40 KK pemilik kebun di kawasan pulau tujuh ini, satu sama lain masih tergolong kerabat. Kami sudah bersumpah untuk mempertahankan keberadaan pulau tujuh ini, karena di sinilah tempat kami memncari nafkah,” ungkapnya. (**)

__________________

Sumber  :  Harian Silampari

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Cerito Kite. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s