Kawasan Batubodoh Diklaim 3 Kelurahan

grafismetro

Ilustrasi

Tebing Tinggi, Empat Lawang

Lokasi dimana berdirinya tambang galian C (Kuari) yang diduga belum mengantongi izin dari pemerintah setempat (ilegal) di kawasan Batu Bodoh di wilayah perbatasan Kelurahan Kelumpangjaya dengan Kelurahan Tanjungmakmur yang sempat diberitakan beberapa waktu lalu, warga kedua kelurahan tersebut saling klaim sebagai wilayah kelurahannya.

Tidak hanya warga di kedua kelurahan tersebut saling klaim, belakangan Kelurahan Pasar Tebing Tinggi juga ikut mengklaim sebagai wilayah admistratif mereka.

Lurah Tanjungmakmur Kecamatan Tebing Tinggi, Eman Sulaiman mengakui adanya saling klaim oleh warga ketiga Kelurahan
dalam wilayah Kecamatan Tebing Tinggi tersebut, namun karena Ia sekarang ini menjabat sebagai Lurah di wilayah Kelurahan Tanjungmakmur, Ia akan memperjuangankan aspirasi warga yang Ia pimpin. “Ada yang bilang kawasan batu bodoh masuk wilayah Tanjungmakmur, ada juga yang bilang itu wilayah Kelurahan Kelumpangjaya bahkan akhir-akhir ini juga terdengar kabar jika itu juga diklaim sebagai  wilayah Kelurahan Pasar Tebing Tinggi. Yang jelas kami punya bukti otentik jika wilayah itu pernah diurus warga kami secara admistratif dan itu tidak ada sanggahan. Baru ketika adanya galian C ilegal itulah muncul klaim kelurahan tetangga,” ungkap Eman.

Hal itu juga dibenarkan oleh Sekretaris Kelurahan (Seklur) Tanjungmakmur, Damiri menegaskan jika tetua (tokoh) masyarakat Kelurahan Tanjungmakmur siap dikonfrotir dengan siapapun untuk menegaskan jika wilayah tersebut memang benar wilayahnya. “Tokoh masyarakat kami siap menegaskan (dikonfrotir-red) kepada siapapun jika itu benar wilayah kami berdasarkan sejarah dan bukti surat-menyurat yang ada,” kata Damiri.

Sementara itu di lain pihak, Tokoh Masyarakat Kelurahan Kelumpangjaya, Bastomi (82) menegaskan jika wilayah kawasan batu bodoh berdasarkan sejarah terbentuknya Desa Lubukkelumpang dan sejarah terbentuknya Desa Tanjungmakmur sudah jelas adalah wilayah Kelurahan Kelumpangjaya dan bukan wilayah Tanjungmakmur apalagi jika Kelurahan Pasar Tebing Tinggi juga ikut mengklaim sangatlah lucu kedengarannya, sebab secara admistratif dari Desa Lubukkelumpang sebelum dimekarkan menjadi Kelumpangjaya, tidak pernah ada perbatasan langsung di Sungai Musi dengan Kelurahan Pasar Tebing Tinggi. “Jika saya tegaskan itu bukan wilayah Kelurahan Tanjungmakmur, apalagi Kelurahan Pasar Tebing Tinggi sangatlah jauh panggang dengan api,” ketusnya.

Dikatakannya, jika sebelum tahun 60an, belum ada desa Tanjungmakmur. Saat itu adanya gerombolan (Pemberontak) yang menguasai daerah hulu Sungai Musi. Karena takut dengan banyaknya gerombolan itulah eksodus warga di hulu Sungai mengungsi ke Tebing Tinggi.

“Mereka datang dari berbagai desa di daerah hulu. Atas kebijakan Pasirah waktu itu diberikanlah nanjungan (tanjung) itu sebagai tempat pengungsian. Karena memang mereka tidak punya tanah untuk bertani, rata-rata mereka bekerja sebagai kuli pasar, makanya saat itu nanjungan tempat mereka tinggal itu disebut Talang Gancu yang sesuai dengan rata-rata pekerjaan penduduk disitu, hingga akhirnya berubah nama menjadi Nanjungan Makmur atau Tanjungmakmur,” jelasnya.

Sebelumnya, Camat Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, Rahmad Riandy melalui Sekretaris Kecamatan (Sekcam), Umar Hasan menegaskan, jika Pemkab Empat Lawang yang langsung memerintahkan pihaknya untuk segera memanggil pihak pengusaha tambang yang sudah menggunakan alat berat tersebut untuk mengklarifikasi sejauh mana izin operasional tambang material Galian C (Kuari) di kawasan Batu Bodoh di wilayah perbatasan Kelurahan Kelumpangjaya dengan Kelurahan Tanjungmakmur tersebut.

“Kita akan panggil terlebih dahulu pihak perusahaan untuk mengetahui sejauh mana izin operasionalnya. Nanti akan berkoordinasi dengan pihak Lurah sesuai dengan intruksi dari Pemkab Empat Lawang, dari hasil pendataan kita itu masih masuk Kelurahan Pasar Tebingtinggi,” ungkap Umar. (HS-10)

_________________

Sumber  :  Harian Silampari

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Berita Empat Lawang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s