Rumahnya Pernah Ditawar Rp.500 Juta

IMG-20150508-00166

Suai (53) bersama anak dan Isteri terpaksa menumpang di rumah Kepala Desa (Kades) Niur Kecamatan Muara Pinang setelah rumah miliknya habis terbakar.

Bencana kebakaran melanda Desa Niur Kecamatan Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang, Kamis (7/5/2015) dini hari menyisahkan kesedihan. Akibat bencana, 21 rumah ludes terbakar dan ratusan Kepla keluarga (KK) harus kehilangan tempat tinggal. Berikut liputannya

PERJALANAN ke Desa Niur Kecamatan Muara Pinang dari Tebing Tinggi Ibukota Kabupaten Empat Lawang cukup melelahkan. Harian Silampari bersama dua orang Wartawan media regional Sumsel menggunakan kendaraan Pick Up L300 dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok menyisiri Bukit Barisan ditempuh dengan waktu lebih dari 1,5 jam perjalanan. Belum lagi banyaknya masyarakat yang sedang mengangkat jemuran kopi di jalan sepanjang desa yang dilalui cukup membuat sopir harus sabar dan ekstra waspada dan juga cukup menghambat perjalanan menuju ke desa yang baru saja tertimpa bencana kebakaran hebat tersebut.

Seperti yang diberitakan beberapa hari lalu, ratusan warga di Desa Niur, Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang harus kehilangan tempat tinggal. Pasalnya sekitar 49 rumah rusak akibat kebakaran yang terjadi Kamis (7/5) sekitar pukul 03.00 WIB. Dan diantaranya 21 rumah hangus, 10 rumah rusak berat dan 18 rumah rusak ringan.

“Ya, benar di sini Poskonya silahkan parkir agak ke depan saja,” kata salahseorang yang diketahui adalah seorang Anggota Tagana.

Usai memarkirkan kendaraan, Kami pun sempat berbincang-bincang sebentar dengan Anggota tersebut, dan Dia pun mengarahkan ke Rumah Kades setempat yang kebetulan sedang ada kegiatan membagikan bantuan berupa Sembako, makanan siap saji, baju dan bantuan lainnya dari pihak Pemkab Empat Lawang dan Masyarakat.

“Bantuan dari pihak BPBD, Dinsos dan Masyarakat setempat sudah ada, ini akan segera kami bagikan, kalau bantuan berupa material bangunan belum ada, termasuk dari pihak Provinsi juga belum datang,” ungkap Pj Kades Niur Kecamatan Muara Pinang, Ewe Oktoliza Kuala.

Dikatakannya, para korban bencana kebakaran semuanya ditampung di rumah penduduk lain yang tidak mengalami bencana, sementara tenda yang disediakan oleh Tagana dan BPBD Empat Lawang tidak terisi. “Kalau korban jiwa tidak ada, sementara korban ditampung oleh kerabat mereka, karena memang korban semuanya warga asli sini,” kata Kades perempuan ini sembari mempersilahkan awak media untuk menemui salahseorang korban yang ditampung di rumah Kades yang masih tergolong kerabatnya itu. (*)

Di ruang tengah rumah Kades, Suai (58) tengadah menatap langit-langit rumah yang terbuat dari kayu tersebut seketika Ia tersentak ketika awak media mengucapkan salam mohon izin berbincang-bincang. Nampak terlukis jelas senyum getir dibibirnya, dan bola matanya sedikit memerah tanda Ia sedang terpukul atas musibah yang baru saja dialami.

“Bapak baru saja mendapat cobaan yang cukup berat, rumah bapak beserta isinya habis terbakar bersama puluhan rumah lainya, cuma beberapa barang saja yang terselamat, surat-surat rumah, ijazah dan lainnya habis terbakar, untuk sementara ini kami menumpang dulu di rumah Kades,” kata Suai mengawali perbincangan.

Diceritakanya, saat kejadian Ia hanya bersama isterinya, Suria Dewi (55) sedangkan ketiga anaknya sedang tidak ada di rumah karena memang dua diantarnya sudah menikah sedangkan yang masih lajang sedang berada di rumah temannya. “Saya saat kejadian hanya bersama isteri, saat itu sedang tidur, baru tau kejadian setelah rumah digedor-gedor tetangga. Rumah saya hanya berselang satu rumah dengan asal api,” terangnya.

Lanjutnya, jika rumahnya itu ada sejak tahun 1982. Pada saat itu rumah panggung yang dibelinya itu masih kayu semua. Beberapa tahun kemudian, rumahnya mulai di rehab, bagian bawah (Kolong rumah) dibeton dan dipasang keramik sementara atasnya masih tetap kayu jenis Meranti.

“Tidak terlalu lama sebelum kejadian, rumah itu sudah ditawar salah seorang warga setempat senilai Rp500 juta, tapi karena isteri saya tidak izinkan tak jadi saya jual, alasannya saat itu nanti tidak ada tempat tinggal lagi. Padahal saya berencana kalau jadi dijual untuk pergi umrah atau beli rumah baru di Palembang. Atas musibah itu, saya berusaha tetap tabah dan mengharapkan rezeki dari Ilahi, sehingga bisa membangun rumah kembali,” harapnya. (**)

Baru sekitar Satu jam Diki  (40) warga Desa Talang Benteng Kecamata Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang memejamkan mata terlelap dalam buaian mimpi, hingar-bingar kendaraan lalu lalang di desa tersebut memaksanya untuk terbangun dan ingin tahu apa gerangan yang membuat kesibukan warga desa yang biasanya terjadi jika sudah ada kokok ayam yang menandakan hari sudah mulai terang.

“Saya sempat heran, lalu lalang kendaraan saat itu sangat banyak padahal waktu menunjukan pukul dua, sementara saya lihat hp, tidak kurang puluhan panggilan tak terjawab, pikir saya pasti ada uzur, saya pun bangun dan mengambil segelas air putih untuk minum. Tak lama setelah itu saya ditelpon oleh seorang teman yang mengatakan jika ada kebakaran besar di desa Niur,” cerita Diki.

Untuk diketahui, jarak antara Desa Talang Benteng dengan Desa Niur tidaklah begitu jauh, hanya memerlukan waktu beberapa menit karena memang kedua desa tersebut bertetangga.

Setelah tahu dari rekannya, Diki pun meluncur ke lokasi kebakaran menggunakan sepeda motor. Benar saja api sudah menghanguskan beberapa rumah di desa Niur, “terus terang, saya tak sampai hati ambil gambar dari kamera ponsel saya, melihat para korban yang histeris rasanya tidak kuat, saya pun memutuskan untuk pulang,” ungkap Diki. (***)

___________________

Diterbitkan di Harian Silampari, Senin (11/5/2015)

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Cerito Kite. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s