Terpaksa Manfaatkan Air Sungai Kotor

IMG-20150501-00092

Warga memanfaatkan aliran Sungai Lidi untuk mencuci dan mandi. Meski airnya tidak layak digunakan mereka mengaku tidak ada pilihan. Foto dijepret, Jum’at (1/5/2015).

Tebing Tinggi, Empat Lawang

Karena tidak memiliki sarana dan prasarana air bersih yang layak, Warga Kampung Sungailidi Kelurahan Pasar Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, terpaksa memanfaatkan aliran air Sungai Lidi yang terlihat kotor karena dipenuhi oleh sampah sepanjang sungai yang lebih mirip dengan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Bahkan menurut sejumlah warga, air dari aliran Sungai tersebut dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga lainnya.

Pantauan di lapangan, Jum’at (1/5/2015) kalangan  ibu-ibu tampak terlihat mencuci dan memandikan anak mereka di sungai tersebut. Mereka mengaku terpaksa karena memang pembangunan saran dan prasarana air bersih dari Pemerintah tak pernah tersentuh di kampung mereka, sementara mereka mengaku tidak memiliki sumur gali karena pembuatan sumur gali tidak memungkinkan di wilayah itu karena kontur tanah yang tidak memungkinkan untuk menggali secara manual.

“Tanah di sini kalau digali baru semeter atau dua meter sudah ketemu dengan napal yang keras, sementara sumur gali baru ketemu dengan air bersih sekitar sepuluh meter ke bawah. Makanya warga di sini rata-rata tidak memiliki sumur gali. Kalau mau mandi mau tidak mau kita manfaatkan Sungai inilah,” ungkap Wakidin (60) salahseorang warga setempat.

Diakuinya, pada dasarnya warga sudah bosan dengan kondisi ini dan sudah lama mengidamkan sarana air bersih yang dibangun pemerintah. Hanya saja, sampai saat ini belum ada tanda-tanda upaya untuk pembangunan sarana air bersih tersebut.

“Saya masuk kesini sejak tahun 1953, sejak itu juga hingga saat ini warga masih saja menggunakan air kali untuk pemenuhan kebutuhan sehari-harinya,” ungkap Wakidin.

Bapak yang juga menjadi penjaga masjid (marbot) di kawasan itu mengatakan, karena ini sumber utama air ke pemukiman mereka, sehingga sekalipun untuk mengisi kolam untuk wuduh juga mengambil air tersebut. Bahkan, karena krisis air bersih ini, tidak jarang warga yang mengambil air dengan memotong saluran ke masjid. Tambahnya lagi, sekarang ini aliran air sudah mulai berkurang, lantaran banyaknya penanaman sawit di hulu sungai, yang membuat volume air berkurang.

“Memang, sekalipun kemarau air ini tidak kering, namun volumenya sudah berkurang, apalagi adanya penanaman sawit di hulunya. Harapan kami, kondisi ini menjadi perhatian pemerintah untuk mencarikan solusinya,” katanya.

Warga lainnya menambahkan, wilayah ini sangat mengandalkan aliran Sungai Lidi ini, karena untuk menggali sumur tidak memungkinkan, lantaran struktur tanahnya berupa napal, sementara ketebalan tanahnya paling hanya semeter saja. Sedangkan untuk pendistribusian dengan mobil tangki tidak juga bisa dilakukan, karena terkendala akses yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan jenis itu.

“Masalahnya sudah komplit, sehingga sulit juga untuk mencarikan solusinya. Dulu kami juga sudah pernah mencari sumber mata air, namun tidak bisa dialirkan, karena ada warga yang tidak mau menghibahkan tanahnya untuk dilalui jaringan pipanya,” ungkap Yunus.

Dikatakannya juga, untuk sekarang ini air yang biasanya digunakan warga sudah tidak layak konsumsi lagi. Hal ini terbukti, bila sudah mandi rambut menjadi keras, seperti memakai wag. Penyebabnya, sudah banyak warga yang menggunakan air itu, seperti mencuci dan lainnya. Apalagi kawasan ini, kebanyakan warga menjadi tukang cuci. Padahal ratusan KK di sini juga memanfaatkan air ini untuk keperluan setiap harinya.

“Mereka mencuci di kali itulah, jadi airnya sudah banyak bercampur sabun, belum lagi sampah-sampah yang dibuang ke kali itu juga. Sehingga tidak memungkinkan untuk dikonsumsi lagi,” katanya. (HS-10)

_________________

Sumber  :  Harian Silampari

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Berita Empat Lawang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s