Saya Tak Malu Dikatakan Banci

transvestite-147346_1280“Saya memang Banci, saya tidak menyukai Pria, saya takmau hidup dalam kemunafikan, saya selalu berharap jika suatu saat ada seorang Pria yang mau hidup bersama dengan saya didalam suka maupun duka,” Ujar Mawar (24) salahseorang wanita pria (Waria) warga Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, minggu (18/1).

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Mawar, bukanlah nama sebenarnya seorang Waria atau masyarakat kebanyakan menyebutnya Bencong atau Banci warga Empat Lawang ini ternyata bukanlah seorang diri di Kabupaten yang sebentar lagi berumur 7 tahun semenjak dimekarkan dari Kabupaten Induknya, yakni Kabupaten Lahat. Namun ada ratusan orang laki-laki lain yang berperasaan sebagai perempuan dan berharap dapat hidup layaknya perempuan serta mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seorang Pria.

Ini sesuai yang diakui oleh narasumber Penulis tersebut, menurut Dia waria yang ada di Empat Lawang rata-rata diantaranya adalah pendatang dari luar Empat Lawang, dari segala tingkatan sosial dan pekerjaan.
“Banyak, mereka rata-rata adalah pendatang, bahkan didalam sepengetahuan Saya ada diataranya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), tapi mereka itu munafik tak mau mengakui kalau mereka berjiwa layaknya perempuan. Mereka malu jika dianggap Banci kaleng, takut tersisi dalam bergaul dan bersosialisasi dengan masyarakat umum,” ungkap Mawar.

Padahal menurut Mawar, justru mereka tidak jelas menunjukan jati dirilah yang sulit diterima masyarakat, lantaran masyarakat takut untuk bergaul dengan mereka karena alasan-alasan tertentu. Karena sifat kebancian itu tidak dapat disembunyikan, dan masyarakat juga takut salah menilai apakah Banci atau bukan yang akhirnya menyebabkan Dia sulit bergaul dalam masyarakat.

“Kalau kita terang-terangan mengakui bahwa kita banci, ya tentu perempuan sungguhan tak takut bergaul dengan kita, laki-laki sungguhan pun tentu maklum dan ini tentu membuat perasaan kita tidak terbebani didalam bersosialisasi,” ucapnya.

Juki (40) warga Empat Lawang ketika dimintah pendapatnya tentang prilaku kemayu yang dipamerkan para trans gender di muka umum, mengaku jijik. Namun demikian Ia tak perduli sebab menurutnya itu bagian dari asasi manusia asal tak mengganggu biarkan saja.
Dikatakannya Ia merasa prihatin sebab menurut Dia prilaku tersebut dapat dilawan jika ada kemaun dari sang Banci itu sendiri.

“Masyarakat kita kebanyakan tak perduli dengan mereka, asalkan tak mengganggu biarkan saja, itu haknya mereka, namun saya cuman sedikit prihatin sebab itukan penyakit, jika ada upaya seseorang ingin berubah tentu akan sembuh,” katanya.

Sementara, Ketua LSM Merah Putih yang membidangi permasalahan Sosial dan Kemasyarakatan di Empat Lawang, Firmansyah mengungungkapkan pentingnya pendidikan seks sejak dini adalah salahsatu dasar pencegahan pada prilaku menyimpang termasuk Banci. Dengan kata lain, seseorang yang menjadi Banci dapat dicegah sedini mungkin asal para orang tua dapat peduli dengan perkembangan anak-anak mereka. Lanjutnya, prilaku menyimpang seperti itu menurut Dia dapat terdeteksi dari awal.

Dan umur yang paling rawan kalau tidak segera ditangani adalah sekitar sang anak beranjak remaja, Disinilah fungsi pengawasan orang tua untuk mengarahkan anak-anak mereka jangan sampai prilaku tersebut terlambat diatasi.

“Jika fungsi pengawasan orang tua berjalan dengan baik, meski banci itu dari faktor genetik, hal tersebut dapat dicegah asal para orang tua dapat memahami, memang jika faktornya dari genetika atau istilah kasarnya turunan, kemayunya sulit dihilangkan namun, jika ada kesabaran dari orang tua hal tersebut dapat dihilangkan secara bertahap,” tukasnya.

Dijumpai terpisah, Ustad Iskandar Enzoe salahsatu pemuka agama di Tebing Tinggi tidak menampik adanya Banci. Sebab didalam Islam pun ada aturan untuk kaum trans gender tersebut. sebab ia juga manusia mukallaf sebagaimana lelaki dan wanita normal. Karenanya, dalam fiqih Islam, kita mengenal istilah mukhannats (banci/bencong), mutarajjilah (wanita yang kelelakian), dan khuntsa (interseks/berkelamin ganda).

“Masing-masing dari istilah ini memiliki definisi dan konsekuensi berbeda lain waktu akan saya jelaskan lagi. Akan tetapi jika ditanya berdosa atau tidak, jika hal tersebut terjadi secara alami dan tidak melawan kodrat hal tersebut tidaklah masalah. merubah kodrat yang dimaksud yaitu merubah yang Allah telah berikan kepadanya, dan jika itu terjadi maka hal tersebut berdosa,” Kata mantan anggota DPRD Empat Lawang dari PKS tersebut singkat. (ozi)

_____________________________

Iklan

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Cerito Kite. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s