Puskesmas Paiker tak Bisa Layani Rawat Inap, Pasien Terpaksa ke Bengkulu

Paiker, Empat Lawang – Puskesmas Rawat Jalan Pasemah Air Keruh (Paiker) yang sudah diusulkan naik kelas menjadi Puskesmas rawat inap hingga kini belum bisa menerima rawat inap.
Hal ini terkendala minimnya petugas yang hanya memiliki satu dokter, tujuh tenaga medis, yakni perawat dan bidan. Bahkan, informasinya juga belum didukung dengan alat kesehatan (Alkes) serta obat-obatan.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak bisa memanfaatkan pelayanan publik tersebut. Masyarakat Paiker terpaksa berobat ke Kabupaten Kepahiyang, Bengkulu, karena daerah itu lebih dekat dari Paiker daripada harus ke pusat kota Tebing Tinggi.

“Katanya sudah rawat inap, tetapi sarana dan prasarana tidak menunjang, belum lagi minimnya tenaga medis untuk melayani pasien. Ini mesti dicarikan solusinya, karena masyarakat terpaksa menempuh jalan yang cukup jauh, seperti ke Kepahiyang, bahkan sampai ke Bengkulu,” ungkap Rahman, salah seorang warga Paiker, Rabu (25/9/2014).

Dikatakannya, Puskesmas rawat inap ini masih mengalami kekurangan obat-obatan, seperti obat untuk anak-anak, padahal obat seperti ini sangat diperlukan. Sementara obat-obatan yang kurang diperlukan seperti obat kencing manis kini sudah terlalu banyak.

“Sarana dan prasarana penunjang masih sangat minim, juga tidak didukung jumlah petugas medis. Karena itu, harapan kami kedepan petugas puskesmas terutama dokter dapat bertambah sehingga puskesmas yg di harapkan bagi masyarakat untuk dapat rawat inap dapat segerah terwujud,” harapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Empat Lawang, Khairullah melalui Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK), Syahrial Kodril ketika ditemui di ruang kerjanya, menampik bila di Puskesmas Paiker terjadi kekurangan obat-obatan karena baru saja distok.

Selain penyetokan obat-obatan yang dilakukan tiga bulan sekali ini, bila obat-obatan habis, pihak Puskesmas langsung melapor.
“Kalau kekurangan obat-obatan saya rasa tidak mungkin, karena baru saja distok. Ya, kalau habis itu hal yang wajar, karena kasus misalnya seperti ini, ketika di kecamatan itu banyak sakit malaria, maka obat malaria akan cepat habis. Pun sebaliknya, jika gejalanya kurang, maka stok obat akan banyak,” katanya.

Disinggung mengenai kekurangan alkes dan tenaga medis, Syahrial enggan berkomentar, karena hal tersebut bukanlah kapasitasnya.

“Nanti konfirmasi saja ke Kadin ya, karena bukan bidang saya, jadi tidak pas,” tandasnya. (wwk)

——————————————

Sumber : Sriwijaya Post

Iklan

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Pos ini dipublikasikan di Berita Empat Lawang. Tandai permalink.