Kedelai melambung, Produsen Tempe Rugi

TEBING TINGGI – Kenaikan harga kacang kedelai merambah hingga ke kabupaten Empat Lawang. Ini pun membuat sejumlah produsen tempe dan tahu merugi, karena modal dikeluarkan untuk memproduksi makanan rakyat itu lebih besar.

Dua pekan terakhir, harga kedelai tembus Rp 10 ribu perkilogram, naik sekitar Rp 4000 dari harga awal sekitar Rp 6000 perkilogram. Kendati demikian, produsen tempe dan tahu tidak bisa mengurangi komposisi dan harga jual di pasaran.

“Kita pasrah merugi, dari modal awal saja kita sudah harus menambah sekitar Rp 4000 perkilogram. Kita tidak bisa berbuat banyak, karena tuntutan pasar harus tetap dipenuhi sesuai komposisi dan harga semula,” ungkap salah satu produsen tempe di Tebing Tinggi, David, kemarin.

Menurut David, usaha tempe miliknya sudah bergerak sejak puluhan tahun lalu. Belum pernah pernah separah ini kenaikan harga kedelai meningkat tajam.

Dalam satu hari, dirinya memproduksi tempe kisaran 50 kilogram, hasil didapat hanya 100 potong ukuran satu meter. Atau jika dibandingkan dengan modal keuntungan tidak mencapai sebagian harga beli kedelai. Nah, dengan kenaikan harga kedelai menjadi Rp 10 ribu perkilogram, dirinya kembali menambah modal sekitar Rp 200 ribu perhari.

Kondisi ini tentu sangat menyulitkan, khawatir jika ada produk gagal pasar kerugian semakin meningkat. “Untung saja langganan kita tetap, seperti rumah makan dan sejumlah pengecer tempe di pasar. Karena itu, kita tetap menjaga kepercayaan kepada para pelanggan karena sewaktu-waktu nanti harga kedelai kembali normal langganan lama masih tetap ada, jangan sampai ketika kedelai murah nanti langganan sudah berpindah ke orang lain,” katanya.

Selain itu juga, meskipun harga kacang kedelai naik, dirinya tetap memproduksi seperti biasa dengan ukuran yang telah dijual dipasaran, karena dikhawatirkan kalaupun di perkecil pelanggan tidak mau membelinya. “Dengan bentuk yang tetap tempe masih diproduksi dengan harga yang tetap sama. Namun saya berharap agar harga kedelai jangan terlalu lama seperti ini, bisa-bisa roboh usaha saya,” keluh David dan berharap, agar ada solusi yang diberikan oleh pemerintah daerah sehingga seluruh pengusaha tempe tidak kesulitan lagi.

“Di Tebing Tinggi ini ada empat usaha pembuat tempe dan memiliki karyawan cukup banyak, paling tidaklah dengan adanya bantuan pemerintah sudah banyak menolong masyarakat membutuhkan pekerjaan”lanjutnya.

David mengulas, beberapa tahun sebelumnya pemerintah Kabupaten Empat Lawang sedikit memperhatikan para produsen tempe dan tahu. Seperti adanya subsidi harga kedelai sekitar Rp 1000 perkilogram, bahkan harapan bantuan modal dan peralatan. Namun, ya sekarang tidak ada lagi, sepertinya pemerintah tidak begitu perhatian lagi. Pengajuan mesin ke Disperindag Kop UKM hingga sekarang tidak ada realiasasinya. (Tono)

——————————————

Sumber : KABARkite.com

Iklan

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Berita Empat Lawang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s