Petani karet semakin mengeluh

TEBING TINGGI – Hujan yang masih terus turun mengguyur wilayah Kabupaten Empatlawang khususnya daerah sentra petani karet seperti Kecamatan Saling, Talang Padang, dan Tebing Tinggi membuat petani di kawasan tersebut makin mengeluh.

Pasalnya, petani dikawasan tersebut relatif menganggur karena tidak bisa menyadap getah karet mereka. Karena menurut para petani, jika musim hujan khususnya malam hari atau dini hari turun hujan, secara otomatis karet tidak bisa disadap.

Menurut seorang warga Desa Tanjung Ning Tengah, Kecamatan Saling, Mansyur, dirinya tidak bisa menyadap saat musim hujan karena hanya akan mubazir. Karena mangkok sadapan akan dipenuhi oleh air bukan oleh lateks atau getah yang disadap. Sehingga menurutnya daripada menjadi mubazir, lebih baik tidak disadap sama sekali.

“Makanya dibilang tidak bisa disadap itu, getahnya tetap ada tapi lebih banyak airnya jadi percuma saja,” ujarnya, Senin (4/2/2013).

Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak beberapa bulan belakangan atau sejak musim hujan. Kalaupun bisa disadap menurutnya hanya beberapa hari dan hasilnya tidak maksimal.
Apalagi sejak awal tahun 2012 lalu harga karet di wilayah tersebut cenderung turun, hanya dikasaran Rp4.500-Rp6. ribu perkilogramnya.

“Jadi bisa dibayangkan, musim hujan sudah berapa lama dan harga karet yang tidak naik-naik sudah berapa lama, kalau soal perekonomian jangan ditanyalah,”ungkapnya.

Bahkan menurutnya, yang lebih kasihan lagi adalah bagi petani penggarap bukan pemilik. Karena hasil getah karet yang disadap harus dibagi dengan pemilik kebun. Sehingga tidak sedikit yang berubah profesi seperti menjadi kuli bangunan atau tukang ojek.

Kondisi demikan mau tidak mau, karena sebagai petani sangat tergantung dengan kondisi alam atau cuaca.
“Semisal harganya murah tapi bisa menyadap berarti masih ada penghasilan, sekarang ini cuaca tidak sangat tidak mendukung sehingga banyak yang berdiam dirumah,” jelasnya.

Senada Alimin, petani karet dari Desa Pajar Bhakti tidak menampik dengan kondisi cuaca saat ini sangat menyulitkan bagi mereka sebagai petani karet. Hanya saja menurutnya, mereka sebagai petani sudah sangat menyadari hal tersebut. Mereka menyakini tidak selamanya akan musim hujan.

“Sebelumnya musim kemarau, petani padi tidak bisa mengolah sawahnya, sekarang terbalik musim hujan kami yang tidak bisa menyadap,” ujarnya.

Hanya saja, lanjutnya, mereka berharap ada kenaikan harga karet, karena mereka sudah sangat lama menunggu harga karet membaik. Dengan harga yang ada saat ini petani merasa mengeluh dan tak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mengingat rata-rata petani yang ada memiliki kebun sekitar 1-2 Ha.

“Jadi kalau semisal ada yang harus mengangsur kredit motor atau menguliahkan anaknya seperti di Palembang atau di pulau Jawa, jelas agak kesulitan,” ujarnya.
( Irhamudin – Koran Sindo )

——————————————

Sumber : Sindo News

Iklan

Tentang mangoci4lawang

Mangoci4lawang Post adalah Kumpulan berita Empat Lawang yang diambil dari berbagai sumber media baik lokal ataupun Nasional ter-update setiap hari. Didalam menyampaikan mengutamakan kecepatan, ketepatan dan berimbang. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut. Terima Kasih telah mengunjungi kami...
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Kabar Empat Lawang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s