50 KK Miliki KTP Berbeda-beda

  • Melihat Lebih Dekat Dusun Pagarjaya, Kecamatan Tebing Tinggi

Meski berada di satu dusun yang sama, ternyata setiap kepala keluarga (KK) di Desa Pagarjaya (Beringin 17) dalam wilayah Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, mengakui Kepala desanya berbeda-beda. Sebagian warga memilih Desa Baturaja Lama, sebagian Baturaja Baru dan sebagian lagi mengakui Kades Sugiwaras sebagai Kepala desanya. Berikut laporannya.

IMG_5748

BERMAIN : Anak-anak bermain di sebuah Pos Siskamling di Dusun Pagarjaya (Beringin 17) perbatasan antara Desa Baturaja Baru denga Desa Sugiwaras dalam Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, Minggu (28/2/2016).

KECERIAN anak-anak bermain bersama teman sebayanya dan senyum warganya yang cukup ramah kepada setiap orang yang kebetulan melintas dusun tersebut, menjadi pemandangan pertama saat memasuki wilayah dusun yang sempat menyandang nama Talang Meril, Minggu (28/2).

Sebuah tugu kecil setinggi kurang lebih satu meter di tengah dusun, tampak sebagai penegas, jika dusun tersebut berdiri diantara dua Desa yang berbeda, meskipun dalam satu dusun yang sama.

Memang, dusun ini bukanlah sebuah desa defenitif dan secara admistratif, dusun ini berada dalam dua wilayah desa berbeda, yakni sebagian wilayah Desa Baturaja Baru dan sebagian wilayah Desa Sugiwaras.

Selain ada penegasan dari tugu perbatasan antar desa, dusun yang memiliki kurang lebih 50 kepala keluarga ini, merupakan salah satu dusun yang unik. Meski hampir seluruh warga di dusun ini mengaku sudah puluhan tahun tinggal di dusun ini, mereka yang tinggal dalam satu dusun ini, mereka mengaku berbeda-beda kewargaan desanya.

“Kami di dusun ini terbagi dari tiga kewargaan antara lain, warga Baturaja Lama, Baturaja Baru dan warga Sugiwaras. Saya sendiri adalah warga desa Baturaja Lama dan sudah 20 tahun menetap di sini,” ungkap Junaidi (60) salah seorang warga Pagarjaya kepada Harian Silampari, saat dibincangi di kediamannya.

Disampaikannya, meski bukan dalam satu pimpinan Kepala desa (Kades) yang sama, warga di dusun ini sebutnya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan saat ada permasalahan di tengah masyarakat, mereka biasa memecahkan permasalahan dengan duduk bersama (musyawarah). “Di sini juga ada tiga kepala dusun dan semuanya berbeda Kadesnya. Namun, ketika ada permasalahan di tengah masyarakat, setiap Kadus sama-sama berembuk menyelesaikannya,” ungkapnya lagi.

Seluruh warga di desa ini dikatakan Junaidi, mayoritas adalah petani/pekebun. Pihak Kepala desa sebutnya, tidak pernah mempermasalahkan warga di sini mau masuk dalam data kependudukan desa manapun, meski mendirikan rumah di wilayah desa Sugiwaras, namun berkewargaan Baturaja ataupun sebaliknya. “Setiap Kades membebaskan warga sini untuk memilih desa mana yang menjadi induknya,” tuturnya.

Sementara warga lainnya, Habib (60) menyampaikan jika dia juga sudah puluhan tahun tinggal di dusun ini. Dia yang mengaku sebagai warga Desa Sugiwaras, selama ini antara warga Desa Baturaja Baru, Baturaja Lama maupun Sugiwaras, hubungan antar ke tiga warga desa tidak pernah ada masalah. Bahkan ketika ada salah satu keluarga di dusun tersebut mendapat bantuan dari desa induknya, warga lainnya tidak begitu mempersoalkannya.

“Pernah ada warga yang ber KTP Baturaja Lama namun dapat bantuan dari Sugiwaras dan pernah juga sebaliknya, ber KTP Sugiwaras dapat bantuannya dari Baturaja. Warga tidak pernah permasalahkan itu, karena kondisinya memang layak dibantu,” katanya.

Kepala desa (Kades) Sugiwaras Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, Nasponi Aidi saat dibincangi terpisah, membenarkan bercampur aduknya kewargaan di dusun Pagarjaya (Beringin 17). Meski lebih dari separuh warga di dusun tersebut mendirikan rumah di wilayah desa yang dipimpinnya, pihaknya tidak pernah memaksa warga di dusun itu harus menjadi warga Desa Sugiwaras.

“Banyak juga warga desa tetangga mendirikan rumah di wilayah saya, namun untuk kewargaan kita bebaskan warga sana memilih, apakah sebagai warga Baturaja ataukah Sugiwaras, karena dusun ini sama jauhnya dengan kedua desa. Dari sugiwaras jauh, dari Baturaja juga jauh,” jelasnya.

Hanya saja sambung Nasponi, pihaknya hanya ingin kejelasan masalah gedung Sekolah Dasar (SD) yang berdiri di dusun itu, meski berada di bagian wilayah Desa Sugiwaras, namun sekolah tersebut menyebut sebagai SDN 20 Desa Baturaja Baru Tebing Tinggi, dan ini pihaknya tidak mengerti.

“Harusnya, karena gedung sekolah itu di wilayah desa kita, namanya ya SDN 20 Desa Sugiwaras, biar jelas gedung sekolah itu berdiri di Desa Sugiwaras, bukan Desa Baturaja,” sampainya. (*)

___________________________

 

Diterbitkan di Harian Silampari edisi Senin, 29 Februari 2016

 

 

 

Dipublikasi di Cerito Kite | Meninggalkan komentar

Enaknya Makan Nasi Bungkus di Taman Musi II

# Ishoma Bersama Susyanto Tunut

Taman musi II di bawah Jembatan musi II (Jembatan kuning) Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, menjadi alternatif melepas penat warga Tebing Tinggi dan sekitarnya. Awak media bersama Kepala Dinas Kehutanan, Perkebunan, Pertambangan dan Energi (Dishutbuntamben) Empat Lawang, Susyanto Tunut mencoba melepas penat di lokasi tersebut sembari menghabiskan waktu Istirahat, Sholat dan makan (Ishoma) siang. Berikut liputannya.

IMG_4759

Kepala Dinas Kehutanan, Perkebunan, Pertambangan dan Energi (Dishutbuntamben) Empat Lawang, Susyanto Tunut (Paling kiri) memandang indahnya alam di lokasi Jembatan kuning Tebing Tinggi, Kamis (4/2/2016).

Waktu menunjukan pukul 12.30 WIB. Hari itu, Kamis 4 Febuari 2016, setelah melaksanakan Shalat Dzuhur di salahsatu Masjid tidak jauh dari Kantor Dishutbuntamben Empat Lawang, Kadishutbuntamben Empat Lawang, Susyanto Tunut bersama beberapa orang pegawai di lingkungan Dishutbuntamben Empat Lawang, secara kebetulan bertemu awak media langsung mengajak ke lokasi taman musi II yang terletak di bawah Jembatan kuning.

Di lokasi yang baru saja selesai dibangun pada penhujung tahun 2015 oleh pihak Dinas PUBM ini, memang tak salah telah mampu memikat hati warga sekitar untuk mengunjunginya.

Asrinya alam dan sejuknya angin sepoi-sepoi di kolong jembatan itu, ternyata memang menjadi daya tarik sendiri sembari menikmati makan siang dengan lauk seadanya yang dibeli di salah satu rumah makan di kawasan Tebing Tinggi.

Sementara, di seberang sungai sisi jembatan yang lain, terlihat beberapa anak muda nongkrong bersama teman sebayanya. Terlihat juga beberapa orang sedang asyik memancing ikan di sungai musi di tambah hilir mudik perahu getek penambang pasir tradisional di tengah sungai musi menambah suasana keakraban.

Beberapa orang pegawai di lingkungan Dishutbuntamben Empat Lawang, merasa takjub melihat lokasi ini.

“Saya baru sekali ini ke sini, sungguh luar biasa rupanya setelah dibangun, sepertinya sangat enak nongkrong di sini, wajar tiap sore ramai dikunjunjungi,” cetusnya.

Sementara itu, tidak ada pembicaraan khusus yang disampaikan Kepala Dinas yang dikenal dekat dengan awak media ini selain makan siang bersama. Hanya tawa kelakar menghiasi guyonan di sela-sela obrolan.

“Sepertinya, enak juga makan nasi bungkus di lokasi sini, wajar jika lokasi ini banyak dikunjungi,” kata Susyanto Tunut kepada awak media untuk membuka pembicaraan.

Dia menyebut, pembangunan di Kabupaten Empat Lawang, sudah begitu banyak di lakukan oleh Pemkab Empat Lawang, demi kemajuan daerah ini. Bahkan beberapa jenis pembangunan sudah mulai dicontoh oleh daerah lain, hal ini tentu tidak lepas dari kerja keras yang dilakukan semua kalangan.

“Kita patut berbangga, beberapa item pembangunan sudah dilirik oleh daerah lain sebagai percontohan dan ini tidak lepas dari kerja keras semua elemen di kabupaten ini,” sebutnya.

Meski kadangkala diakuinya, pembangunan di kabupaten ini terbilang nekat. “Namun inilah pembangunan, kalau tidak nekat maka akan sulit dilakukan. Contohnya saja, jika kita terus berpikir tanpa aksi, membangun rumah saja itu akan sulit dilaksanakan,” imbuhnya. (**)

 

____________________

 

Sumber : Harian Silampari edisi cetak, Jum’at 5 Febuari 2016

 

 

Dipublikasi di Cerito Kite | Meninggalkan komentar

Polres Siapkan Ruang Tahanan Khusus Narkoba

# Ruang Tahanan Wanita Dibuat Sedikit Tertutup

Para tersangka tindak kriminal, khususnya narkoba yang berhasil ditangkap aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Empat Lawang akan ditahan di sel khusus. Sebab, sekarang Polres Empat Lawang sedang membuat hotel prodeo khusus bagi tahanan narkoba. Berikut laporannya.

IMG_20160201_130732

Salah seorang petugas kepolisian berkonsultasi dengan tukang bangunan.

Lokasi hotel prodeo ini berada di ruang Satuan Reserse Narkoba yang baru dibangun. Di dalam sel tahanan terdapat dua ruangan dan satu kamar mandi, dua ruangan tersebut untuk tahanan laki-laki dan tahanan perempuan.

Kapolres Empat Lawang, AKBP Rantau Isnur Eka SIK melalui Kasat Res Narkoba, Iptu Joni Indrajaya mengatakan kepada wartawan, Selasa (2/2/2016) jika selama ini tahanan narkoba gabung dengan para tahanan kasus lain di sel tahanan Polres Empat Lawang. Namun setelah sel tahanan ini selesai, maka para tersangka narkoba akan mendekam di sel tahanan khusus narkoba.

“Sekarang masih dalam tahap pengerjaan, beberapa hari lagi selesai,” ujar Joni ketika sedang mengawasi para pekerja, seraya menjelaskan jika sel tahanan ini kokoh sebab menggunakan besi dan sebagian dindingnya dibeton, diatasnya juga di beri besi.

“Tidak menempel ke plafon, karena bagian atasnya juga diberi besi,” bebernya.

Sel tahanan ini, lanjut Joni, bisa menampung sekitar sepuluh tahanan. Sementara khusus untuk ruang tahanan perempuan dibuat sedikit tertutup. “Pelaku narkoba yang berhasil kami tangkap, sementara kami tahan dulu di sel ini. Setelah enam hari atau kejelasan statusnya sudah pasti langsung kami limpahkan ke Rutan (Rumah Tahanan),” tukasnya. (**)

 

__________________

 

Sumber : Harian Silampari edisi cetak, 3 Febuari 2016

 

 

Dipublikasi di Cerito Kite | Meninggalkan komentar

Ketiban Rezeki di Musim Durian

# Minimal Rp150 Ribu per Harinya
Saat musim buah durian (duren) seperti saat ini, warga di Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, ketiban rezeki. Tidak hanya pemilik kebun durian, warga yang tidak memilki kebun durian pun masih dapat menikmati rezeki dari musim durian ini. Berikut laporannya.

Rudi saat mengaduk lempok di tungku perapian

Rudi saat mengaduk lempok di tungku perapian. Foto HS

JIKA pemilik kebun durian dapat langsung menjual buah durian ke pengepul untuk dikirimkan ke kota-kota besar seperti Palembang dan Bandarlampung, atau menjual langsung ke pasar atau menjajakannya ke pengemudi di pinggir jalan lintas tengah Sumatera (Jalintengsum), bagi warga yang tidak memiliki kebun durian, mereka dapat bekerja sebagai pengaduk lempok di usaha-usah pembuat lempok durian yang turut menjamur pada musim durian seperti saat ini.

Seperti yang dilakukan Rudi (40) salah seorang warga Desa Batupanceh Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, dia bekerja sebagai pengaduk lempok di salah satu usaha pembuatan lempok durian di desa yang sama.

Rudi mengaku dapat mengatongi uang minimal Rp150 ribu rupiah perharinya, dari pekerjaannya sebagai pengaduk lempok di usaha pembuatan lempok durian. Dia tidak bekerja sendiri di usaha pembuatan lempok milik Hendri (60) warga yang sama, dia bersama lebih dari 8 (delapan) orang yang lain, juga bekerja di usaha lempok tersebut.

“Tugas kita hanya mengaduk lempok selama dalam proses pembuatannya saat dimasak di tungku api, perkali masak kita dibayar Rp50 ribu. Kalau dulu saya pernah dalam satu hari dapat 5 sampai 6 kali masak, mungkin karena sudah tidak kuat lagi saat ini saya hanya mampu menyelesaikan 3 sampai 4 kali masak,” ungkap Rudi kepada wartawan.

Disampaikannya, proses pengadukan lempok dalam prosek pengeringan di tungku perapian, ini paling cepat 2 jam hingga kondisi lempok yang dimasak tidak lengket lagi di kuali dan setelah itu masuk dalam proses selanjutnya dan dikemas hingga siap jual. “Bahan-bahan pembuatan lempok ini cuma daging buah duren matang pohon ditambah dengan gula pasir secukupnya, diaduk di tungku perapian sedang. Diaduk terus hingga lempok benar-benar kering tidak lengket lagi di kuali, paling cepatlah dua jam baru siap angkat,” jelasnya.

Diceritakannya, pekerjaan sebagai pengaduk lempok ini, hampir tiap tahun dilakoninya. Meski pekerjaan ini cukup menghasilkan uang, dia menyebut musim durian tidaklah lama seiring buah durian di pohonnya habis.

“Paling hanya sebulan, sudah itu kita kembali kepekerjaan biasa sebagai penyadap getah karet. Musim durian dalam setahunya paling lama sebulan ramainya,” sebutnya.

Sementara Hendri, pemilik usaha pembuatan lempok, mengaku dalam satu musim durian, dia hanya mengisi pesanan berdasarkan kontrak yang sudah disepakati sebelumnya dengan pedagang pengepul lempok di Tebing Tinggi.

“Mereka sudah menetapkan kontrak diawal musim dengan saya hingga beberapa ton lempok. Pernah saya mendapat kontrak hingga 50 ton permusim, namun pada tahun ini saya tidak berani kontrak lebih banyak, mengingat ketersedian durian pada tahun ini tidak begitu banyak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Dikatakanya, lempok yang dibuat dan diolah oleh lebih dari 20 orang karyawan di usaha miliknya ini, dipasarkan hingga beberapa kota besar di Indonesia, bahkan sampai ke negeri tetangga. Dia menegaskan, jika lempok yang dibuat di tempatnya ini, tidak menggunakan bahan pengawet apapun, karenanya dia mengatakan jika lempok yang dibuatnya tidak dapat bertahan lama.

“Bahan yang kita gunakan hanya durean matang pohon ditambah gula pasir secukupnya, tidak ada pengawet sama sekali.  Jika ada lempok yang dapat bertahan lama hingga berbulan-bulan itu pasti menggunakan bahan pengawet, kalau lempok kita paling lama dua hingga tiga minggu,” ungkapnya. (**)

 

 

_________________________

 

Sumber : Harian Silampari edisi cetak Senin, 1 Februari 2016

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Cerito Kite | Meninggalkan komentar

Durian Hidupkan Gairah Ekonomi di Empat Lawang

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Musim buah Durian di Kabupaten Empat Lawang, membuat geliat perekonomian di kabupaten yang bersemboyan Saling Keruani Sangi Kerawati, tampak bergairah.

Seperti yang terlihat di Desa Batupanceh Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, musim durian ternyata telah membuat geliat perekonomian di desa ini menjadi bergairah.

Tidak cuma petani pemilik kebun durian, para pelaku usaha pun tidak ketinggalan memanfaatkan momen musim durian untuk membuat Lempok durian, penggananolahan dari buah durian khas Empat Lawang, yang dipasarkan hingga ke manca negara. (021)

____________________________

Dipublikasi di Berita Video | Meninggalkan komentar

Polres Gelar Cofee Morning Bersama SKPD/FKPD Empat Lawang

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Polres Empat Lawang, menggelar kegiatan Coffee Morning bersama SKPD dan FKPD yang dilaksanakan di Mapolres Empat Lawang, Jum’at pagi (29/1/2016).

Kegiatan Coffee Morning yang menurut Kapolres Empat Lawang, AKBP Rantau Isnur Eka SIK ini sebagai salah satu upaya untuk mensinergikan konsepitas SKPD dan FKPD yang ada di Empat Lawang.

Tujuannya sendiri untuk berbagi informasi untuk kemajuan pembangunan di Kabupaten Empat Lawang.

Dicontohkannya, ketika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Empat Lawang, ingin mamajukan pembangunan di suatu sisi, bagaimana penilain dari segi keamanan dan itu yang perlu disinergikan. Tidak asal membangun namun harus sesuai dengan konsep bersama diantara SKPD maupun FKPD yang ada di Kabupaten Empat Lawang. (021)

__________________________________

Dipublikasi di Berita Video | Meninggalkan komentar

Beberapa Titik Jalan Mulai Membelah

Tebing Tinggi, Empat Lawang

IMG_2302

BELAH : Badan jalan di antara Desa Baturaja Baru dengan Desa Sugiwaras terlihat membelah. Foto diabadikan Selasa (18/112015).

BADAN jalan antara Desa Baturaja Baru dengan Desa Sugiwaras Kecamatan Tebing Tinggi, saat ini mulai banyak mengalami penurunan. Akibatnya, beberapa titik badan jalan mengalami pembelahan pada aspalnya.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, jika belahnya beberapa titik aspal di badan jalan ini mulai terlihat pada tiga bulan yang lalu, namun saat itu belum terlalu terlihat jelas dan tidak ada yang sepanjang seperti terlihat saat ini. Hal ini terjadi diduga akibat penurunan tanah pada salah satu sisi jalan karena memang berada di pinggir jurang.

Pantauan Harian Silampari di lapangan, Rabu (18/11/2015) mayoritas titik jalan yang terlihat membelah berada di pinggir jurang. Karena kontur tanah yang labil dan dipicu oleh hujan yang cukup deras beberapa hari belakangan, membuat salah satu sisi jalan turun. Tentu saja hal itu menyebab kan belahnya sebagian aspal badan jalan.

Menurut Hendri, salah seorang warga sekitar menyebutkan, jika jalan tersebut diaspal antara tahun 2012/2013. Dikatakannya jika jalur jalan dari Desa Baturaja Baru hingga ke Desa Sugiwaras ini memang rawan terjadinya longsor, karenanya jalan tersebut patut diwaspadai pada musim penghujan.

“Terutama jalan seblum masuk ke dusun beringin 17, di sana banyak titik-titik yang rawan longsor bahkan pada tahun 2011 kalau tidak salah ingat, jalan tersebut sempat putus total,” ungkap Hendri.

Dikatakannya, kondisi jalan yang memiliki kontur tanah yang labil ini, dikatakanya harus menjadi perhatian pihak pemerintah kabupaten (Pemkab) Empat Lawang, sebab bukan tidak mungkin saat curah hujan yang tinggi dapat memicu longsor pada badan jalan sehingga dapat memutuskan akses masyarakat. “Ya setidaknya ini menjadi perhatian semua pihak, jangan sampai nanti setelah terjadi longsor baru ada upaya,” katanya.

Lain hal dengan Ilham, salah seorang pengendara yang kebetulan melintas saat dimintai tanggapannya mengaku cukup khawatir melintas jalan ini, selain ancaman longsor, tidak adanya rambu dan pagar pengaman jalan di beberapa titik jalan yang di sisinya terdapat jurang, membuat dia dan pengendara yang lain harus ekstra hati-hati. Sebab, dengan kondisi jalan yang cukup sempit, dapat membuat pengendara yang melintas bertabrakan atau ancaman jatuh ke dalam jurang.

“Kalau saya lihat, di sisi jalan yang ada jurangnya tidak ada pagar pengaman jalan, rawan juga saat kita berpapasan dengan kendaraan truk misalnya, meski tidak terlalu dalam, lumayan (ngeri) juga jatuh kesana,” ujarnya.

Dia berharap hal ini juga menjadi perhatian semua pihak, jangan sampai ketika sudah terjadi kecelakaan baru ada upaya. “Paling tidak ini harus jadi catatan kita semua, pengendara harus sadar bahaya kecelakaan, sementara pemerintah juga harus ada upaya. Kalau mau mati itukan tuhan semua yang tentukan,” tutupnya. (HS-10)

______________________

Sumber ; Harian Silampari

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Meninggalkan komentar