Sapi Bantuan Dipotong Ketua Poktan

Tebing Tinggi, Empat Lawang

berkeliaran-03

Ilustrasi (IST)

Sapi bantuan Pemerintah pusat melalui Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Empat Lawang yang seharusnya menjadi sapi percontohan yang dikelola oleh salsatu Kelompok Tani (Koptan) di Desa Tanjungning Lama Kecamatan Saling Kabupaten Empat Lawang, dipotong dan dagingnya dijual oleh oknum Ketua Koptan desa setempat tanpa ada pemberitahuan ke anggota Koptan dan pihak BP2KP Empat Lawang.

Hal ini diungkapkan salahseorang pemuka masyarakat setempat, Muhar Sosiba kepada Harian Silampari, Sabtu (29/8/2015) saat dibincangi di Tebing Tinggi disebutkannya jika sapi yang seharusnya menjadi percontohan masyarakat itu telah dipotong dan dijual dan hasil penjualan daging sapi yang diketahui berjumlah 2 ekor ini telah dipergunakan untuk kepentingan pribadi oknum ketua kelompok tani tersebut.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini, sebab sapi itu untuk percontohan masyarakat. Apalagi diketahui, hasil penjualan sapi itu juga dipergunakan untuk kepentingan pribadi yang bersangkutan,” ungkap Muhar yang juga salahseorang penyuluh pertanian pertanian swadaya (PPS) desa setempat.

Diungkapkannya, kejadian itu diketahui dirinya setelah adanya laporan masyarakat yang mengatakan jika sapi bantuan tersebut telah dijual sebelum lebaran Idul Fitri 1436 Hijriyah kemarin. Untuk memastikan hal tersebut, Ia bersama warga lainnya mengecek ke kandang dua ekor sapi bantuan tersebut, namun ketika dicek benar jika dua ekor sapi sudah lama tidak ada di kandang. “Berdasarkan pengakuan warga, oknum ketua kelompok tani sudah menjual dua ekor sapi tersebut dengan cara dibantai terlebih dahulu, dan hasil menjual sapi milik warga ini dipergunakan untuk kepentingan pribadi yang bersangkutan,” terangnya.

Dengan adanya kejadian ini kata Muhar, pihaknya akan melaporkan hal ini ke pihak BP2KP dan meminta untuk segera mengusut kejadian ini sebab oknum Ketua Kelompok Tani ini telah melakukan perbuatan yang menguntungkan diri sendiri melalui kelompok tani yang diketuainya.

“Tidak hanya ke badan penyuluh empat lawang, kita juga akan laporkan hal ini ke jalur hukum, sebab perbuatannya sudah merugikan kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Sementara, Zainal Ketua Poktan di Desa Tanjungning Lama Kecamatan Saling Kabupaten Empat Lawang yang dituding telah menjual sapi bantuan tersebut untuk kepentingan pribadi ketika dikonfirmasi tidak menapik hal tersebut. Namun dikatakannya jika hal tersebut terpaksa dia lakukan karena anaknya sedang mengalami masalah hukum dan memerlukan biaya untuk urus perkaranya.

“Aku terpaksa lakukan itu karena anakku kemaren ada masalah dengan hukum, oleh karena butuh biaya pengurusan perkaranya terpaksa sapi itu aku potong dan dagingnya aku jual. Uangnya sebanyak 15juta rupiah semuanya sudah habis urus perkara anakku,” ungkap Zainal bernada menyesal.

Dikatakannya jika sapi itu adalah hibah dari kementerian melalui BP2KP Empat Lawang kepada kelompok taninya untuk digemukan dan akan dipotong juga akhirnya. “Hingga saat ini anggota kelompok tani tidak ada yang tau karena memang selama ini memang aku yang urus. Nanti juga kalau ada uang akan aku ganti lagi sapi itu,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala BP2KP Empat Lawang, H Fadila Marik hingga berita ini naik cetak belum juga dapat dikonfirmasi. (HS-10)

________________________

Sumber : Harian Silampari

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Meninggalkan komentar

Perlintasan Rel KA Minim Peringatan

Tebing Tinggi, Empat Lawang

IMG-20150829-01939

Perlintasan rel KA di kawasan Kelurahan Kelumpangjaya Kecamatan Tebing Tinggi yang minim rambu peringatan. Foto diabadikan Minggu (30/8/2015).

Perlintasan rel Kereta Api (KA) di Kelurahan Kelumpangjaya, Kecamatan Tebing Tinggi tidak memiliki palang perlintasan dan minim rambu peringatan. Hal ini tentunya dapat membuat besarnya potensi kecelakaan sebab kurangnya rambu membuat para pengemudi tidak mengetahui jika jalan yang akan dilaluinya melintasi Rel KA.

Pantauan Harian Silampari, Minggu (30/8/2015) rambu peringatan diperlintasan rel KA terpasang di beberapa titik, untuk dari arah Kelurahan Kelumpangjaya menuju desa Baturaja Kecamatan Tebing Tinggi terdapat titik rambu yang terpasang, namun dari arah sebaliknya, hanya terpasang satu rambu peringatan padahal terdapat dua pelintasan rel yang dilewati kendaraan apabila ingin melintas di kawasan tersebut.

“Ada si ada, rambu peringatan hati-hati melintas cuma dari arah desa Baturaja (dusun Gaung) itu cuma terpasang satu peringatan sedangkan kita melintasi rel itu dua kali melintas, takutnya orang pikir hanya satu kali melewati rel kereta api,” ungkap Adi, salah seorang warga saat melintas.

Dikatakanya, perlunya kesigapan pihak terkait untuk melengkapi rambu-rambu tanda mendekati rel kereta api dan rambu perlintasan berupa palang keret agar menghindarkan bahaya bagi kendaraan melintasi rel. Karena mumpung sebelum terjadi bahaya bagi warga jadi lebih baik menyiapkan rambu-rambunya.

Ditambahkan warga lainya, Mukmin, mengakui sering merasa was-was melintasi lokasi rel namun karenas sudah terbilang sering melintasi lokasi tersebut jadi tidak merasa takut lagi. Karena ia menyampaikan kuncinya adalah hati-hati sebelum meintasi rel dan meliht kekiri kanan rel.

“Kalau dulu was-was melintasi, sekarang ya sudah terbiasa seperti ini, kuncinya hati-hati lihat kiri kanan rel sebelum melintas,” ungkapnya. (HS-10)

_______________________

Sumber : Harian Silampari

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Meninggalkan komentar

Warga Berduyun-duyun Turun ke Sungai Musi

Tebing Tinggi-20150829-02357

Tampak Warga yang datang dari beberbagi wilayah turun ke sungai musi di kawasan Jembatan kuning untuk melakukan aktifitas mandi dan mencuci. Foto diabadikan, Minggu (30/8/2015).

Tebing Tinggi, Empat Lawang

Musim kemarau yang masih melanda Kabupaten Empat Lawang dan sekitarnya memaksa warga di bumi Saling Keruani Sangi Kerawati harus berduyun-duyun turun ke sungai musi untuk melakukan aktifitas mandi dan mencuci.

Beberapa titik tepian sungai musi dimulai dari pukul 16.00 WIB hingga magrib di setiap harinya tampak begitu ramai oleh warga yang melakukan aktifitas mandi maupun mencuci.

Seperti yang terpantau di tepian sungai musi di bawah Jembatan Musi II (Jembatan kuning) Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, warga yang berasal dari kawasan Desa Mekarjaya (3A), Prumnas cross, Talangbanyu dan kawasan Sekip Kelurahan Kupang Tebing Tinggi bahkan diantaranya berasal dari Desa Sidomakmur Kecamatan Kikim Barat Kabupaten Lahat tampak terlihat melakukan aktifitas mandi dan mencuci di kawasan bawah Jembatan Kuning. Mereka biasanya datang bersama-sama dengan membawa kendaraan, selain mencuci dan mandi beberapa diantaranya membawa Diregen untuk diisi air sungai dan untuk dibawa pulang.

“Kami terpaksa mandi dan mencuci di sini sebab memang air sumur sudah lama kering. Kalau di sungai kan bisa lebih leluasa menggunakan air,” ungkap Paiman salahseorang warga saat dibincangi Harian Silampari, Minggu sore (30/8/2015).

Dikatakan warga yang mengaku berasal dari Desa Sidomakmur Kecamatan Kikim Barat, Kabupaten Lahat ini, mengaku jika aktifitas terjun ke sungai musi setiap petangnya ini dilakukan Dia bersama warga lainnya karena memang semenjak belakangan minggu terakhir ini sumur sudah kering, sementara air sungai yang tergolong kecil sudah tidak mengalir lagi, tentu saja sudah tidak layak lagi untuk digunakan untuk aktifitas mandi dan mencuci. “Kalau sungai-sungai kecil sudah tidak mengalir lagi, makanya kami banyak lari ke sungai musi, kalau air minum dan untuk keperluan memasak kami beli air galon, sementara untuk keperluan lainnya di rumah kami selalu bawa dirigen kosong yang akan kami isi air musi selepas mandi,” terangnya.

Diungkapkannya, meski lokasi dari desanya ke sungai musi terbilang cukup jauh yakni sekitar 5-6 Kilometer (Km), dia bersama warga lain tidak memiliki pilihan sebab air tebat yang menjadi sandaran warga di desanya sudah mengeluarkan bau tidak sedap, dan apabila digunakan akan membuat kulit menjadi gatal-gatal. “Sebenarnya desa kami memiliki tebat yang cukup bagus airnya, namun semenjak musim kemarau airnya sudah tidak layak lagi digunakan karena sudah mengeluarkan bau dan dapat menyebabkan gatal-gatal,” akunya.

Sementara Warsi salahseorang warga desa Mekarjaya (3A) mengaku jika Ia bersama keluarganya terpaksa mandi dan mencuci ke sungai musi sebab air sumur di rumahnya sudah tidak cukup lagi untuk digunakan pada aktifitas mandi dan mencuci pakaian. Oleh sebab itu, semenjak memasuki musim kemarau seperti kali ini, ada aktifitas baru yakni mengajak keluarga nyebur ke sungai musi.

“Bagi saya musim kemarau adalah musim nyebur ke sungai, sebab air sumur cuma cukup untuk mencuci piring saja, kalau untuk kepeluan lainnya ya terpaksa lari ke sungai,” imbuhnya. (HS-10)

___________________

Sumber : Harian Silampari

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Meninggalkan komentar

Kades Khawatir Dana Desa Tidak Cair

dana-desa-ilustrasi-_130203211801-395

Ilustrasi (IST)

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Takut dana desa tidak dapat dicairkan, sejumlah Kepala Desa (Kades) di Kecamatan Ulumusi turut mempertanyakan dana desa dari bantuan APBN tersebut ke pihak Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD), Kamis (27/8/2015).

Diantaranya Kades Kunduran Kecamatan Ulumusi, Juanda bersama sejumlah Kades lainya mengaku takut dana desa tersebut tidak cair tahun ini sebab dapat berimbas pada pencairan dana desa di tahun berikutnya tidak diberikan lagi ke Kabupaten Empat Lawang, alias diblacklist.

“Kami hanya mempertanyakan kapan cairnya, takutnya kalau ditahun ini tidak dicairkan, kabupaten kita bisa saja diblaklist untuk dana itu, karena isu yang berkembang seperti itu,” ungkapnya.

Kepala BPMPD Empat Lawang, M Azhari saat dikonfirmasi mengatakan dana tersebut akan cair namun syarat untuk mendapatkan dana desa tersebut Kades harus menyelesaikan dokumen berupa APBdes, RKP, dan RPJMdes. Saat ini hanya sebagian Kades saja yang telah menyelesaikan dokumenya diantaranya beberapa desa dari Kecamatan Ulumusi, Saling dan Sikapdalam.

“Jadi dana itu sudah ada di DPPKAD tidak lagi dipusat, kalau dokumenya dari kades selesai secepatnya cair,” terang Azhari.

Ditegaskannya, dana desa tersebut tidak mungkin tidak cair atau diblacklist untuk tahun mendatang jika memang persyaratan dari desa sudah siap akan segera dibawa ke DPPKAD. Perlu diketahui, besaran bantuan dana desa tersebut tidak semua desa sama.  Untuk kabupaten Empat Lawang yang menerima dana desa sekitar Rp 41 Milyar diberikan sebanyak 147 desa dari 149 desa yang ada, karena dua desa belum menerima statusnya masih sebagai desa persiapan. Dengan proses pencairan tiga tahap, ditahap pertama sebanyak 40 persen, tahap kedua 40 persen dan tahap ketiga 20 persen.

“Yang jelas kalau dokumenya APBdes, RKP, RPJMdes dari desa lengkap segera kami usukan ke DPPKAD,” terangya. (021)

 

 

 

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Meninggalkan komentar

Kurang Dikenal Karena Lokasinya Terisolir

Melihat Kawasan Pulau Tujuh

Tebing Tinggi-20150624-01302

Aparat dari Polres Empat Lawang bersama dengan Sekcam Tebing Tinggi, Umar Hasan saat berada di kawasan Pulau Tujuh.

Sebelumnya, sebagian besar masyarakat Empat Lawang belum mendengar tentang adanya keberadaan Pulau Tujuh di Kawasan Desa Sugiwaras Kecamatan Tebing Tinggi, namun nama Pulau Tujuh mulai dikenal lantaran adanya tambang galian C yang beraktivitas secara ilegal di kawasan tersebut. Terlrepas dari itu semua, ternyata Pulau Tujuh terpendam pesona yang belum terungkap. Berikut laporannya.

Pulau Tujuh adalah tujuh pulau yang berada di tengah aliran Sungai Musi di wilayah desa Sugiwaras kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang. Antara pulau satu sama lainya berdekatan sehingga masyarakat menyebutnya Pulau Tujuh.

Awalnya, wartawan media ini mendapatkan informasi adanya keluhan warga desa yang memiliki perkebunan di kawasan tersebut tentang adanya pengerukan material galian C yang mengancam keberadaan Pulau Tujuh. Mereka khawatir jika aktivitas pertambangan tersebut dapat membuat tanah di kawasan pulau tujuh tergerus oleh air (abrasi) akibat dampak pertambangan tersebut.

Pada perjalanan menuju Pulau Tujuh harus kami tempuh dengan perjalanan darat sekitar 45 menit dari Tebing Tinggi Ibukota Empat Lawang menuju Desa Sugiwaras. Perjalanan selanjutnya menggunakan perahu sampan bermesin atau masyarakat umum menyebutnya getek atau ketek menyelusuri kearah hulu Sungai Musi sekitar 30 menit hingga akhirnya tiba di lokasi.

Di sepanjang jalan menggunakan getek, kami disuguhi oleh pemandangan alam yang masih asri, termasuk aliran sungai yang tidak terlalu deras cukuplah membuat kami tidak terlalu khawatir jika nantinya perahu getek ini karam atau terbalik lantaran tak mampu menampung muatan tak sulit bagi kami mencapai daratan dengan berenang.

Perjalanan yang cukup jauh kami tempuh ini ternyata tidaklah sia-sia. Di sepanjang perjalanan menggunakan getek ini tampak pemandangan cukup membuat decak kagum, tampak aliran sungai musi yang membelah pulau-pulau tentu membuat pesona bagi yang memandangnya. Terbersit di pikiran, alangkah indahnya kawasan ini jika dikelola dan dijadikan kawasan wisata, tentunya dengan profesional, bukan seperti saat ini dikeruk materialnya secara membabi buta.

“Kawasan ini dinamakan Pulau Tujuh, karena memang pulau yang ada di kawasan ini jumlahnya tujuh buah, semuanya dikelola oleh masyarakat setempat dijadikan kebun atau berladang,” terang Awal (40) sang pengemudi perahu getek menerangkan.

Dikatakannya, meski kawasan ini sangat bagus untuk dijadikan tempat wisata, namun karena masih terisolir banyak masyarakat belum menyadari keberadaan Pulau Tujuh, sehingga nama Pulau Tujuh tidaklah sefamiliar terdengar Pulau Emas atau Pulo Emass yang saat ini sedang digarap oleh Pemkab Empat Lawang untuk dijadikan sentra ekonomi dan pariwisata. “Kalau dibandingkan Pulau Emas, tentu jauh lebih bagus Pulau Tujuh, namun karena tempatnya jauh, tak banyak orang mendengar nama Pulau Tujuh,” imbuhnya.

Sementara Imron, salahseorang Petani yang mendiami salahsatu pulau di kawasan itu mengaku jika Ia sudah lama membuka kebun di kawasan Pulau Tujuh. Selain tanahnya yang sangat subur, kawasan ini Ia miliki secara turun temurun dari nenek/kakek nya.

“Makanya, ketika ada aktivita pengerukan material golongan C di kawasan ini, saya rela mati untuk mempertahankannya, karena inilah warisan dari kakek nenek kami,” tegasnya.

Kawasan pulau tujuh ini cetus Imron para pemiliknya adalah masih terbilang keluarga dekat, oleh karena itulah, jika ada permasalahan yang mengancam keberadaan pulau, mereka cepat bertindak bersama. “Ada sekitar 40 KK pemilik kebun di kawasan pulau tujuh ini, satu sama lain masih tergolong kerabat. Kami sudah bersumpah untuk mempertahankan keberadaan pulau tujuh ini, karena di sinilah tempat kami memncari nafkah,” ungkapnya. (**)

__________________

Sumber  :  Harian Silampari

Dipublikasi di Cerito Kite | Meninggalkan komentar

Pelantikan Pilkades Berlangsung Khidmad

HBA Saat melantik-kd2PELANTIKAN 101 Kades terpilih produk Pilkades sistem e-Voting serentak pertama di Indonesia langsung oleh Bupati Empat Lawang, H Budi Antoni Aljufri SE, MM (HBA) Rabu (17/6/) di Gedung Serbaguna (GSG) Pemkab Empat Lawang berlangsung khidmad.

Acara pelantikan yang dimulai pada pukul 9.00 WIB ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Empat Lawang H Syahril Hanafiah, Kapolres Empat Lawang Rantau Isnur Eka SIK, Sekda Empat Lawang H Burhansyah beserta jajaran dan ribuan orang undangan lainnya berjalan tertib tanpa ada halangan yang berarti.pengambilan sumpah jabatan-kd6

Dalam laporannya, Kepala BPMPD Empat Lawang, Drs M Azhari MM mengatakan jika pelantikan 101 orang Kades terpilih hasil dari pelaksanaan Pilkades yang menggunakan sistem e-Voting secara serentak ini sudah sesuai dengan UU nomor 6 tentang Desa, PP nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU nomor 6 tahun 2014, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) nomor 112 tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Desa, UU nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Perda Empat Lawang No 2 Tahun 2015 tentang Pilkades sistem e-Voting.

“Dengan mengacu peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, pada hari ini (kemarin, red) 101 Calon Kades terpilih segera dilantik,” kata M Azhari.

HBA menyalami kades usai pelntikan-kd3Pada kesempatan itu juga, M Azhari mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan Pilkades sistem e-Voting serentak yang pertama dilakukan di Indonesia tersebut. “Hari ini kita akan melantik Kades terpilih sebanyak 101 orang. Pada kesempatan ini saya mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak keamanan, Pihak SKPD, Tim Tekhnis, Tim Pemantau, pihak Kecamatan dan semua pihak yang telah membantu atas kesuksesan Pilkades ini,” ungkapnya.

Bupati Empat Lawang, H Budi Antoni Aljufri SE, MM (HBA) dalam sambutannya mengatakan jika pembangunan di Kabupaten Empat Lawang saat ini bertumpu pada 101 Kades yang dilantik pada hari ini. Untuk itu Dia meminta agar Kades adalah orang yang benar-benar siap bekerja untuk menyukseskan pembangunan Empat Lawang Emass nan Gemilang sehingga cita-cita bersama untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Empat Lawang dapat cepat terwujud.HBA menyampaikan sambutannya-kd4

“Saya percaya jika Kades yang dilantik hari ini adalah orang yang siap bekerja, bekerja dan bekerja, sehingga apa yang dicita-citakan mewujudkan kemakmuran masyarakat cepat terlaksana,” kata HBA.

Dikatakannya, pelantikan 101 orang Kades terpilih hasil dari Pilkades yang menggunakan sistem e-Voting ini adalah yang terbanyak dan pertama dilakukan di Indonesia. Untuk itu sebagai masyarakat Kabupaten Empat Lawang tentunya patut berbangga karena Empat Lawang sudah mampu menjadi pilot projeck pelaksanaan Pilkades serentak yang menggunakan sistem e-Voting.

“Insyaallah pelantikan Kades pada hari ini dan Pilkades pada waktu sebelumnya adalah terbanyak, terbesar dan pertama yang menggunakan sistem e-Voting yang pernah dilakukan di Indonesia,” sebutnya.

tamu undangan memadati gsg-kd1Untuk diketahui, pemilihan Kepala Desa (Pilkades) dengan sistem e-Voting serentak gelombang I di Kabupaten Empat Lawang yang dimulai 25 mei hingga 3 Juni 2015 yang juga pelaksanaan Pilkades sistem e-Voting yang dilakukan dalam satu wilayah Kabupaten/Kota secara serentak pertama di Indonesia.

Pilkades di 101 desa dalam wilayah Kabupaten Empat Lawang, dibagi dalam 5 (lima) wilayah pilihan yakni, wilayah pilihan I Kecamatan Muara Pinang dan Lintang Kanan, wilayah pilihan II Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker) dan Ulu Musi, wilayah pilihan III Kecamatan Sikap Dalam dan Pendopo Barat, wilayah pilihan IV Kecamatan Pendopo dan Talang Padang, serta wilayah V Kecamatan Tebing Tinggi dan Saling. (ADV/Harian Silampari)

DAFTAR NAMA-NAMA CALON KEPALA DESA TERPILIH 

PILKADES SERENTAK SISTEM E VOTING

KABUPATEN EMPAT LAWANG, GELOMBANG I TAHUN 2015

I. KECAMATAN TEBING TINGGI

1. ULAK MENGKUDU – ISKANDAR LUKTI

2. AUR GADING – ISKANDAR

3. TERUSAN BARU – ALEK DEKA SAPUTRA

4. RANTAU TENANG – RUDI HARTONO

5. UJUNG ALIH – ELPI SAMSI

6. KOTA DAGING – MULYADI

7. BATU RAJA LAMA – EDY BAHADAL

8. BATU RAJA BARU – HENDRA

9. SUGIWARAS – AHMAD NASPONI AIDI

10. LUBUK GELANGGANG – MUHAMMAD RUSTAM

11. TANJUNG KUPANG BARU – KURINI

12. BATU PANCE – SUPARJO

II. KECAMATAN SALING

1. TANJUNG NING TENGAH – BASTIAR

2. TABA – JUARIA

3. TANJUNG NING LAMA – HAMKA

4. SAWAH – HERHARIZAL

5. MUARA SALING – ARIEF BUDIMAN

6. LUBUK KELUMPANG – ARWANDI

III. KECAMATAN TALANG PADANG

1. ULAK DABUK – KASMIR

2. REMANTAI – FAUZI

3. KEMBAHANG BARU – NUR HASANAH

4. TALANG PADANG – ALI MURTOPO

5. MACANG MANIS – YUYUN NOPRIANTI

6. PADANG TITIRAN – MAKHDANI

7. KARANG ARE – MEDIAN SAPUTRA

IV. KECAMATAN PENDOPO

1. NANJUNGAN – M. NAZIR

2. LUBUK LAYANG – NETI YUNITA

3. BANDAR AGUNG – BAMBANG UTOYO

4. JARAKAN – TIBRONI

5. GUNUNG MERAKSA BARU – AMRULLAH HARIM

6. MANGGILAN – TARMIZI

7. GUNUNG MERAKSA LAMA – UBAIDILLAH DALIL

8. MUARA KARANG – SUDIRMAN

9. SARANG BULAN – MUKROBIN

10. TANJUNG BARU – JAMIL AZHARI

11. BATU CAWANG -TABRIT

V. KECAMATAN SIKAP DALAM

1. PUNTANG – RUDI ASAWAN

2. BANDAR AJI – YULISDA

3. PADU RAKSA – ALEXANDER HEX

4. KARANG DAPO BARU – TASIMUL QOLBI

5. KARANG DAPO LAMA – PAUSU

6. TANGGA RASA – SARGANI

7. TAPA LAMA – TARMIZI

8. TAPA BARU – ASONI

9. MARTAPURA – SUPRI HARTONO

10. KARANG ANYAR – ABDUL MUMID

VI. KECAMATAN PENDOPO BARAT

1. KUNGKILAN – WIDODO BUDIARMO

2. MUARA LINTANG BARU – LUTPAN BUDI PURNOMO

3. RANTAU DODOR – IRA PUSTIKA

4. PADANG BINDU – HERIADI, SE

5. AIR KANDIS – ZANTRI ALAM

6. TEBAT PAYANG – ISMAIL

7. TANJUNG RAYA – M. GANDA JABATULLLAH

8. KARANG CAYA – FIRMAN

VII. KECAMATAN ULU MUSI

1. MUARA BETUNG – KAUSAR

2. SIMPANG PERIGI – DEKKI SUARNO

3. PULAU KEMANG – SISWOYO

4. LUBUK PUDING BARU – GUNAWAN

5. LUBUK PUDING LAMA – JON HERI, SE

6. BATU BIDUNG – MUSTADI

7. KUNDURAN – JUANDA

8. AIR KELINSAR – KAMIDI EDY SAPUTRO

9. TANJUNG AGUNG – Drs. SURATNO

10. GALANG – ERLAN ANTONI

11. BATU LINTANG – BARLIAN

12. MUARA KALANGAN – H. FAUZI

VIII. KECAMATAN PASEMAH AIR KERUH

1. TALANG PADANG – SAMAUDIN

2. PENANTIAN – ROBINSON

3. PAGAR JATI – BURHAN

4. LAWANG AGUNG – DARMAWAN

5. KEBAN JATI – ABU BAKAR SIDIK

6. TALANG RANDAI – SAMSUDIN

7. PADANG BINDU – AGUSMAN JAYA

8. MUARA AMAN – SYAMSUL SUKARDI

9. PADANG GELAI – SUGIAN SIWANG

XI. KECAMATAN LINTANG KANAN

1. TANJUNG JATI – SAMSUL

2. PAGAR JATI – ARZAN

3. NIBUNG – YOYON ROSPANDI

4. BATU AMPAR – HONERI LION

5. KARANG TANDING – ANTON, SE

6. RANTAU ALIH – RIATUL

7. TANJUNG ALAM – JHON KANEDI

8. BABATAN – RUDI HARTONO

9. MUARA DANAU – ABDULAH MARWAZI

10. LUBUK PAYANG – ABDUL TORIS

X. KECAMATAN MUARA PINANG

1. SELEMAN ILIR – EDI SUGIANTO, SE

2. MUARA TIMBUK – JAKA HARTONO

3. BATU GALANG – ALI WARDANA

4. TALANG BENTENG – MEDI KASTARI

5. MUARA SEMAH – FIRLAN

6. NIUR – EM. FITRI JUNAIDI

7. PAJAR MENANG – MESTA MORGAN, SE

8. TANJUNG TAWANG – JULIAN HENDRI

9. MUARA PINANG LAMA – SISWO PRANOTO

10. SAPA PANJANG – MAILAN

11. TALANG BARU – PENI PERONIKA

12. TANJUNG KURUNG – ERLAN

13. BELIMBING – TASLIM

14. PADANG BURNAI – RADEN NAJAMUDIN, SE

15. SUKADANA – FAUZI

16. SAWAH – AHMAD TABRANI

Sumber  : Panitia Pilkades Srentak Kabupaten Empat Lawang 2015

__________________

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Meninggalkan komentar

Quari Kawasan Pulau Tujuh Dipertanyakan

Tebing Tinggi-20150613-01035

Quari di Kawasan Pulau Tujuh Desa Sugiwaras Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, terlihat sudah menggunakan alat berat jenis Eksavator. Hal ini mengancam keberadaan Kawasan Pulau Tujuh. Foto diabadikan Sabtu (23/6/2015).

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Puluhan orang Petani yang membuka lahan perkebunan di kawasan Pulau Tujuh, Desa Sugiwaras Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Empat Lawang untuk menertibkan Tambang Galian C (Quari) di kawasan itu. Pasalnya aktivitas Quari yang sudah beroprasi selama kurang lebih 1 bulan itu mengancam keberadaan pulau-pulau yang sudah turun temurun dijadikan perkebunan warga. Mereka khawatir jika terjadi abrasi pada tujuh pulau yang ada di kawasan itu akibat pengerukan material galian c yang sudah menggunakan alat berat jenis eksavator.

Pantauan sejumlah Wartawan, Sabtu (13/6/2015) di lokasi, terlihat satu unit Eksavator sedang terparkir di kawasan Quari tersebut. Sementara 2 orang yang diyakini adalah karyawan sedang duduk santai, sementara material galian C menumpuk di pinggir Sungai Musi . “Saya hanya penjaga di sini sedangkan teman saya ini adalah operator becko, jadi kami tidak tau menau tentang soal ada izin atau tidaknya,” ungkap salahseorang Karyawan quari yang tidak mau menyebutkan namanya dan diiyakan oleh temannya dengan isyarat aggukan kepala.

Dari informasi yang dihimpin menyebutkan jika Quari ini merupakan pindahan aktivitas Quari yang ada di Dusun Lawangagung Desa Tanjungkupang Baru Kecamatan Tebing Tinggi karena di kawasan itu akses jalan keluar masuk kendaraan sudah ditutup oleh pemilik tanah, sehingga aktivitas Quari dipindahkan ke kawasan Pulau Tujuh Desa Sugiwaras.

“Kami meminta pihak Pemkab Empat Lawang untuk menertibkan quari itu, jika memang sudah berizin mohon kiranya untuk ditinjau ulang dan jika belum ada izin segera dibawa ke ranah hukum karena aktivitas mereka sudah merusak lingkungan,” ucap Imron salahseorang Petani yang mendiami kawasan Pulau Tujuh.

Dikatakannya, keberadaan pulau-pulau yang ada di kawasaan itu sangat berarti bagi dirinya dan lebih kurang 40 orang petani lain, sebab tanah di kepulauan di tengah perairan sungai musi itu adalah tempat berkebun untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. “Jika ini habis tergerus sungai dampak dari quari itu bagaimana lagi kami berkebun sebab ini adalah satu-satunya kebun yang kami punya,” ungkapnya.

Lanjutnya, jika kawasan itu diyakininya adalah wilayah Desa Sugiwaras, sementara Ia pernah bertanya kepada Kades Sugiwaras jika Quari di kawasan Pulau Tujuh belum ada izinnya.

“Mereka (pemilik quari) sering berkata kepada kami jika mereka sudah mengantongi izin Bupati. Kalau izinnya dari Desa Tanjungkupang Baru, bearti ada yang salah sebab ini adalah wilayah Desa Sugiwaras. Saya pernah bertanya pada Pak Kades jika izin pemdesnya belum ada,” imbuhnya.

Dijumpai terpisah, Camat Tebing Tinggi Rahmad Riyandi melalui Sekretaris Kecamatan, Umar Hasan mengaku belum tau persis dengan Quari di Kawasan Pulau Tujuh. Pihaknya kata Umar akan berkoordinasi dengan pihak Dishutbuntamben untuk mengetahui jelas status Quari yang dimaksud, untuk itu pihaknya meminta kepada Masyarakat agar selalu menjaga kondusifitas agar permasalahan dapat cepat menemui jalan tengah.

“Kita koordinasikan dulu dengan pihak Dishutbuntamben, bagaimana status Quari yang dimaksud. kalaupun ada izin, saya sangat menyesalkan pihak Quari yang tidak memberikan arsip izin mereka kepada pihak Kecamatan, sehingga pihak kami tidak mengetahuinya,” terang Umar.

Kepala Dinas Kehutanan, Perkebunan, Pertambangan dan Energi (Hutbuntamben) Empat Lawang, Susyanto Tunut ketika dikonfirmasi via handphonenya, Minggu (14/6/2015) mengatakan, tidak dibenarkan pengusaha penambangan melakukan aktivitas pengerukan material golongan C yang melampaui batas izin operasi. Pihaknya, sendiri belum bisa memastikan penambangan galian golongan C sungai Musi wilayah Pulau Tujuh tersebut, karena baru mengetahui adanya aktivitas penambangan ini.

“Baru tahu inilah kalau ada aktivitas penambangan, memang dulu ada. Nanti kita krosscek dulu apakah ada atau tidak adanya izin operasinya. Lagi pula, kalaupun ada izin bila melampaui wilayah izin operasi sudah menyalahi aturan,” ungkapnya.

Susyanto menambahkan, untuk izin operasi, apalagi sekarang ini izin operasi dikeluarkan dari Pemprov, bukan lagi pemkab, tidak hanya melibatkan Dishutbuntamben, tetapi BLHD dan pemerintah setempat. Kalaupun sudah memiliki, namun aktivitas penambangan berdampak kerusakan lingkungan, maka izin operasinya bisa dicabut.

“Ya, kalau ada dampak kerusakan lingkungannya, walaupun ada izinnya bisa saja distop dan izin dicabut. Masyarakat juga hendaknya melapor kalau ada penambangan yang merusak lingkungan, karena tidak semua yang terjadi di lapangan bisa kita ketahui,” tandasnya. (HS-10)

_______________

Sumber  :  Harian Silampari

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Meninggalkan komentar