Pemilik Ladang Ganja Diminta Menyerahkan Diri

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Pemilik lahan ganja berinisial SD dan empat temannya yang diduga terlibat sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Empat Lawang. Bahkan, Kapolres AKBP M Ridwan SIK menegaskan bahwa para pelaku sudah diketahui identitasnya, baik pemilik lahan (berinisial SD) dan empat temannya, yaitu RD, RK, MU dan SY, dan mengimbau kepada para DPO untuk menyerahkan diri.

“Kami sudah mengetahui ciri-ciri para pelaku lain yang berhasil melarikan diri saat kami lakukan penggerebakan. Foto-foto mereka juga sudah kami dapatkan. Kami tidak akan segan-segan melakukan tindakan tegas jika mereka tetap bersikeras untuk melarikan diri,” tegas Ridwan, Minggu (31/8).

Kapolres juga berjanji akan terus melakukan penyelidikan untuk memberantas kejahatan narkoba di wilayah hukum Polres Empat Lawang. Untuk itu pihaknya sangat mengharapkan bantuan masyarakat.

“Kami dari Polres Empat Lawang akan menjamin keselamatan masyarakat yang berani memberikan informasi terkait narkotika khususnya di Empat Lawang,” janji Ridwan.

Terpisah Bupati Empat Lawang H Budi Antoni Aljufri (HBA) ketika dikonfirmasi mengatakan, dirinya sangat senang dengan terbongkarnya ladang ganja di Empat Lawang.

Menurut Bupati, sebelumnya sudah ada komunikasi antara Bupati dengan Kapolres dan pihak Polda Sumsel sebelum dilakukan upaya penggerebakan ladang ganja sekitar 3 hektar di Desa Tanjung Alam, Kecamatan Lintang Kanan.

“Tapi target operasi ini dirahasiakan karena takut nanti gagal. Saya sebagai Bupati Empat Lawang memberikan apresiasi atas keberhasilan pihak kepolisian memberantas narkotika di Empat Lawang,” pungkas HBA.(eno)

——————————————

Sumber : jpnn.com

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Jaga Ladang Ganja Diupah Rp 50 Ribu

Palembang – Pasca tim gabungan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel, mengamankan 3 hektare lahan ditanam 10 ribu pohon ganja, dilokasi perbukitan kawasan Desa Tanjung Alam, Kecamatan Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang, Kamis (28/8), Yanto penjaga ladang mengaku dirinya dijanjikan  upah Rp 50 ribu sehari.

Warga Dusun Simpang,  Desa Pagar Jaya, Pagaralam ini, ditemui kemarin di Mapolda Sumsel membantah, dirinya ikut terlibat menanam dan mendapat hasil dari penjualan daun haram tersebut.

Ia mengaku hanya sebagai penjaga ladang dan diupah oleh Sandi (DPO). “Nah, aku dak tau Pak, ladang itu punyo siapo. Aku hanya diajak Sandi, kata Sandi itu kebun miliknya,” ujar Yanto.

Bapak dua anak ini juga mengaku baru mengenal Sandi  lebih kurang satu bulan. Dari perkenalan itu, dia ditawarkan kerja untuk menunggu kebun kopi milik Sandi.

“Ya, Sandi jugo ado kebun kopi. Nah, pas aku diajak ke kebun itu dak taunnyo itu kebun ganja. Sebenarnnyo aku idak galak, karena aku idak biso balek kareno idak ado ongkos jadi terpakso nunggu di kebun itu,” elak Yanto.

Diterangkannya, sesampainya ia di kebun ganja tersebut, Sandi menjanjikan upah Rp 50 ribu sehari untuk jaga ladang. “Aku idak mau dan ingin pulang, saat aku kemas-kemas mau pulang polisi datang,” ujar Yanto dengan logat Lahat.

Diungkapkan Yanto, selama dirinya empat hari dikebun, melihat Sandi panen ganja tersebut, dengan cara memetik daun muda dan dahan, kemudian di jemur dan dimasukan ke karung.

Lalu Sandi menghubungi seseorang. “Aku idak tahu pak dijual berapo dan sapo yang beli, aku idak ikut-ikut, aku di pondok bae. Yang metik dan jemur Sandi galo,” kelit Yanto lagi.

Direktur Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Dedy Setyo YP melalui Kasubdit III, AKBP Imam Ansyori mengatakan, tersangka berikut barang bukti beberapa batang ganja sudah diamankan untuk melakukan penyidikan dan pengembangan lebih lanjut. “Dilokasi ada beberapa titik yang kita bakar,” jelas Imam yang turun langsung ke ladang ganja.

Sebelumnya,  Direktur Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Dedy Setyo YP mengatakan, sekitar 10 ribu pohon ganja setinggi 1,5 meter, siap panen. “Ya, diperkirakan jika di kalkulasikan dalam kilogram ada sekitar 5 ton,” ujar Dedy.

Ditegaskannya, ladang ganja tersebut merupakan pengalihan oleh oknum-oknum mafia menanam ganja di Sumsel khususnya Empat Lawang. Mengingat, untuk memudahkan akses pengiriman ke luar Jawa, sehingga Sumsel lebih dekat dibanding langsung dari Aceh.
“Ini pengalihan mafia ganja untuk kita. Selama ini pasokan-pasokan ganja dari Aceh. Oleh karena itu, untuk memasok ganja di Sumsel, maka batang ganja tersebut ditanam disini. Yang jelas bibitnya dari Aceh,” tegas Dedy seraya mengatakan, saat ini, pihaknnya masih melakukan pengejaran terhadap mafia atau pemilik ladang. (day)

——————————————

Sumber : Palembang Pos

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Kepemilikan Ladang Ganja di Empat Lawang, Diduga Dibackingi Mafia Narkoba

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Penemuan ladang ganja di Desa Tanjung Alam, Kecamatan Pendopo seluas tiga hektar, berisikan 10 ribu lebih pohon ganja siap panen, bisa disebut penemuan terbesar di Sumatera Selatan (Sumsel).

Informasi yang didapatkan, Satuan Narkoba Polda Sumsel mensinyalir ladang ganja di Empat Lawang itu, kepemilikannya dibackingi jaringan narkoba kelas kakap antar provinsi.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Saud Usman Nasution melalui Direktur Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Dedy Setyo Yudho Pranoto menyebut, dugaan adanya dukungan mafia kelas kakap bukan bualan.

Indikasi itu kaat Dedy, terlihat luasnya ladang ganja yang ditemukan tersebut, dan banyaknya pohon ganja yang ditanam. “Itu pasti tidak untuk wilayah Empat Lawang saja, lain kalau kita temukan satu atau dua batang ganja saja,” jelas Dedy, Minggu (31/8)

Indikasi lainnya terang Dedy, terlihat dengan keberadaan ladang ganja itu yang seakan-akan dilindungi oleh masyarakat. Tahun lalu jelas Dedy, saat aparat kepolisian hendak menuju lokasi ladang ganja itu, sempat dihalang-halangi dan dihadang oleh sejumlah warga sekitar. “Ini sangat disayangkan, harusnya masyarakat tidak melindungi pelaku kejahatan yang merusal moral bangsa,” sesalnya.

Satuan Narkoba Polda Sumsel sambungnya, akan terus mengembangkan kasus tersebut. Sebab beber Dedy, tidak menutup kemungkinan ada ladang ganja lain di Kabupaten Empat Lawang selain di Kecamatan Lintang Kanan.

Kepolisian sebutnya, akan bertindak tegas jika ditemukan kembali ladang ganja. Bila perlu tegasnya, jika pelaku melakukan perlawanan maka akan diberi ganjaran yang setimpal. Dedy juga meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Empat Lawang bersama Forum Kesatuan Perangkat Daerah (FKPD) Empat Lawang, jangan tinggal diam.
Menurutnya, perlu kerja yang matang agar masyarakat Kabupaten Empat Lawang tidak lagi untuk buat ladang ganja.

“Ya kasih dong pekerjaan buat mereka, jadi masyarakat tidak buat ladang ganja lagi,” ucapnya.

Sebagai informasi, diberitakan Kabar Sumatera sebelumnya, Jumat (29/8) sekitar pukul 04.00 WIB, tim Satuan Narkoba Polres Empat Lawang bersama Sat Narkoba Polda Sumsel dan Brimob Polda, berhasil mengungkap ladang ganja seluas tiga hektar di Desa Tanjung Alam, Kecamatan Lintang Kanan Kabupaten Empat Lawang.

Dari tiga hektar ladang ganja di areal perbukitan tersebut, diamankan sekitar 10 ribu batang lebih ganja siap panen. Temuan itu, adalah temuan kedua di 2014. Sebelumnya, Sat Narkoba Polres Empat Lawang juga menemukan ladang ganja seluas dua hektar di Talang Kemumu, Desa Lubuk Gelanggang, Kecamatan Tebing Tinggi. (saukani)

——————————————

Sumber : Kabar Sumatera

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Dibangun dari Dana APBD, Banyak MCK Plus Terbengkalai


MCK plus yang dibangun oleh Dinas PU CK Kabupaten Empat Lawang, terbengkalai seperti di Desa Lubuk Kelumpang, Kecamatan Saling, Kabupaten Empat Lawang. (foto : Kabar Sumatera)

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Beberapa titik bangunan fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK) di Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, terbengkalai. Bahkan, tidak jarang juga ada beberapa MCK yang sejak dibangun pemerintah tapi tak di fungsikan masyarakat.

Informasi dihimpun, Minggu (31/8), sebagian besar kendala tidak di fungsikannya MCK tersebut, akibat kekurangan air bersih. Diketahui beberapa titik MCK masih menggunakan sumur tradisional, sehingga pada musim kemarau terjadi kekeringan. Disisi lain, ada juga fasilitas MCK seharusnya menjadi milik masyarakat umum tetapi dibangun didalam pekarangan pribadi.

“Seharusnya fasilitas MCK menggunakan sumur bor, tapi kenyataannya hanya sumur tradisional. Makanya, saat musim kemarau tidak ada air dan terbengkalai saja,” kata sumber koran ini, kemarin.
Dicontohkannya, kondisi bangunan MCK di Kelurahan Pasar Tebing Tinggi, Desa Merkarti Jaya, Lubuk Kelumpang serta beberapa desa lainnya. Umumnya setelah dibangun, tidak menjadi solusi kebutuhan air bersih bagi masyarakat sekitarnya. Kendalanya tidak lain, seharusnya dibangun sumur bor tetapi direalisasikan hanya sumur tradisional saja. “Biayanya kan beda, sumur bor dengan sumur tradisional,” cetusnya.

Hal senada disampaikan Madi (38),warga Tebing Tinggi. Dia menilai program pembangunan MCK massal hanya dijadikan proyek keuntungan pribadi, bagi pemborongnya saja. Seharusnya Pemkab Empat Lawang melalui Dinas PU Cipta Karya (CK), melakukan inspeksi ke lapangan, agar tahu betul kondisi sebenarnya dan tidak terkesan hanya menyalahkan masyarakat. ”Saya kira pemkab tak perlu lagi membangun MCK, banyak percuma saja. Sudah dibangun dengan biaya besar, tapi tak di fungsikan masyarakat umum,” katanya.

Sebelumnya Kepala Dinas PU Cipta Karya Empat Lawang A Syaiful Natsir mengaku, siap merespon permintaan warga untuk membuat sarana dan prasarana air bersih, karena itu masuk dalam prioritas utama. Namun, tetap diperhatikan azaz manfaatnya.
Syaiful mengakui, tidak sedikit laporan diterimanya mengenai fasilitas air bersih dan MCK tidak difungsikan, padahal telah dibangun pemerintah di tempat tinggalnya. Bahkan, cendrung tidak terawat dan terbengkalai saja. “Sudah banyak fasilitas MCK dibangun namun sayang tidak dimanfaatkan secara maksimal, harusnya masyarakat menjaga, merawat, dan memanfaatkan dengan baik,” tukasnya. (saukani)

——————————————

Sumber : Kabar Sumatera

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Belum Kembalikan, Mobdin Diambil Paksa

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Mobil dinas (mobdin) yang digunakan oleh anngota DPRD Empat Lawang masih banyak yang belum dikembalikan ke Sekretariat DPRD. Padahal, batas waktu penggembalian mobdin sudah lewat yakni pada 22 Agustus lalu.

Mobdin tersebut seperti milik Ketua dan Wakil Ketua DPRD. Lalu Ketua Fraksi, Ketua Komisi, Sekretaris Fraksi, Sekretaris Komisi dan mobdin lainnya. Hingga Minggu (31/8) baru empat dari 17 unit mobdin yang baru dikembalikan.

“Baru empat unit yang dikembalikan. Kami akan seger melayangkan surat kedua pemberitahuan penarikan mobdin yang belum dikembalikan tersebut kepada pemilik mobdin,” kata Kepala Bagian Umum Sekretaris Dewan Empat Lawang, Tarmizi.

Namun jika surat pemberitahuan itu tidak segera ditanggapi akan langsung dilakukan penarikan paksa terhadap mobdin-mobdin tersebut. “Surat pemberitahuan kedua secepatnya akan kami layangkan. Jika tidak segera ditanggapi, mobdin-mobdin tersebut akan ditarik paksa,” ujarnya.

Penarikan paksa nantinya akan dilakukan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Empat Lawang dengan berkordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) dan bagian aset daerah.

“Hal ini dilakukan untuk menertibkan aset daerah. Dengan begitu penertiban aset daerah bisa tertata,” pungkas Tarmizi. (eno)

——————————————

Sumber : Sumatera Ekspres

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Empat Siswa MAN Tebing Tinggi Positif Narkoba

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Mengejutkan, Hasil tes urine 100 sample siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tebing Tinggi, ditemukan empat siswa positif menggunakan narkoba jenis ganja. Hal ini terkuak pada inspeksi mendadak (Sidak) tim Badan Narkotika Nasional (BNN) Empat Lawang, Kemarin.

Sidak tersebut menurut Kepala BNN Empat Lawang, Supratman melalui Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan masyarakat, Rebi Lukman, dilakukan sebagai upaya pemberantasan narkoba di lingkuangn sekolah. “Tadi secara acak kita ambil 100 siswa, untuk melakukan tes urine. Hasilnya, ada empat siswa yang positif menggunakan ganja. Tidak menutup kemungkinan ada siswa lain, juga pengguna narkoba,” kata Rebi, kemarin.

Diterangkan Rebi, tes urine dilakukan ke seluruh sekolah di Empat Lawang. Program ini bertujuan, agar mempersempit ruang peredaran narkoba dikalangan pelajar. Kenapa secara acak 100 siswa saja? Menurutnya, itu karena keterbatasan alat tes.
BNN hanya mampu mengambil sampel urine untuk 100 siswa saja, walau pun demikian diharapkan dengan pola ini bisa memberikan efek jera bagi pengguna lainnya. Ketika ditanya narkotika jenis apa kerap ditemukan dikalangan pelajar? dia menyebutkan, sejauh ini hanya jenis ganja.

Contoh saja di MAN Tebing Tinggi, ke empat siswa itu positif menggunakan ganja. Hasil temuan tidak diproses hukum. Namun siswa bersangkutan akan dipanggil, untuk diberikan konseling oleh BNN, guna mencegah penggunaan lebih jauh.
“Tidak kita lapor ke kepolisian, hanya diberikan konseling melibatkan orang tua atau walinya. Tujuannya, agar siswa itu tidak terjerumus lebih menggunakan narkoba jenis apap pun,” ucapnya.

Sementara itu Kepala MAN Tebing Tinggi, Lambang Putra Viktori mengakui ada empat siswanya, positif menjadi pemuja daun setan. Keempat siswa itu, duduk di kelas X dan XI. “Dua diantaranya siswa baru, kita upayakan pembinaan terlebih dahulu dan memanggil wali siswa, ” kata Lambang seraya menolak menyebutkan nama ke empat siswa tersebut, dengan alasan masih dalam upaya pembinaan.

Untuk sanksi kata Lambang, meskipun hasil tes urine mereka positif menggunakan narkoba, tetap diupayakan pembinaan terlebih dahulu. Tidak ada sanksi, sampai menjurus pemberhentian karena para siswa itu adalah korban atau pemakai dan bukan pengedar. “Kita lakukan pembinaan, kalau mereka kita berhentikan otomatis akan menghancurkan masa depannya dan tentu akan terus menggunakan narkoba,” tukasnya. (saukani)

——————————————

Sumber : Kabar Sumatera

Dipublikasi di Hukum dan Kriminalitas | Tinggalkan komentar

Polisi kembali bongkar 3 hektar lahan ganja

Palembang – Setelah menemukan dua hektar lahan ganja pada sebulan lalu, jajaran Polda Sumsel kembali menemukan tiga hektar lahan ganja yang di Desa Tanjung Alam, Kecamatan Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang, Jumat (29/8). Lahan tersebut terdapat 10 ribu batang ganja siap panen.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Dedy Setyo Yudo Pranoto mengungkapkan, ganja tersebut ditanam bersama tanaman kopi di kaki pegunungan yang cukup jauh dari pemukiman warga. Ganja tersebut sudah ditanam lima bulan lalu dan siap panen dengan ketinggian batang 1,5 meter hingga dua meter.

“Pagi tadi, kita grebek lahan tiga hektar lahan ganja dengan 10 ribu batang ganja. Tepatnya di kaki perbukitan di Kabupaten Empat Lawang. Lokasinya agak jauh dari penggerebekan pertama,” ungkap Dedi, Jumat (29/8).

Saat penggerebekan, polisi juga menangkap seorang penjaga kebun berinisial Yanto (25). Sedangkan pemilik lahan berinisial SN, kabur saat penggerebekan di kediamannya.

“Saat digerebek, hanya satu penjaga kebun yang ditangkap. Empat penjaga lain kabur, identitasnya sudah kita ketahui,” kata dia.

Dedi menambahkan, berdasarkan informasi, lahan tersebut memang sudah kerap ditanam ganja dan sempat beberapa kali panen. “Untuk panennya saya kurang tahu sudah berapa kali. Yang jelas, lahan itu memang sering ditanami ganja,” pungkasnya. (mdk/hhw)

——————————————

Sumber : Merdeka.com

Dipublikasi di Hukum dan Kriminalitas | Tinggalkan komentar