Sopir Ojek Gandeng : Kami Hanya Mau Cari Makan


Ratusan sopir ojek gandeng di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Rabu (22/10) mendatangi kantor Dishubkominfo Empat Lawang. Mereka menuntut ada toleransi dari kepolisian dan Dishub untuk tidak menahan motor ojek gandeng yang mati pajak dan pengemudinya tak memiliki SIM. ( Foto : Saukani/KS)

Tebing Tinggi, Empat Lawang – “Kami bekerja, hanya untuk cari makan bukan cari kekayaan. Kalau sepeda motor kami ditahan bagaimana bisa bekerja, bagaimana anak dan istri kami mau makan. Tolong pak polisi, jangan tahan motor kami saat razia,” pinta Saikhu (36), salah satu sopir ojek gandeng di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.

Saikhu bersama ratusan teman seprofesinya, Rabu (22/10) sekitar pukul 09.00 WIB, mendatangi Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Empat Lawang.
Aksi itu mereka lakukan, sebagai bentuk kekecewaan dan solidaritas karena banyak sopir ojek gandeng yang ditilang dan ditahan motornya oleh anggota Satlantas Polres Empat Lawang. Padahal razia sendiri digelar, untuk penertiban kelengkapan surat kendaraan bermotor.

Saikhu mengaku, memang banyak Surat Izin Mengemudi (SIM), rekan seprofesinya yang mati karena tidak diperpanjang. Tak hanya SIM, sepeda motor yang mereka pakai untuk ojek gandeng pun, banyak yang pajak nya sudah mati.

“Tetapi bukan kami tidak mau membayar pajak atau membuat SIM, jangankan bayar pajak atau membuat SIM. Untuk makan saja sekarang susah, saat ini musim krisis, pak. Tolong dimengerti dan fasilitasi kami,” harapnya.

Keluhan senada disampaikan Andre (27), sopir ojek gandeng lainnya. Ia meminta kepolisian memberikan toleransi agar membebaskan sepeda motor yang pajak kendaraan bermotornya mati tidak ditilang. “Kalau motor bodong, kami tidak protes jika ditahan. Namun kalau hanya mati pajak, tolong jangan ditahan motor kami, karena kami juga butuh makan dari hasil ojek ini,” jelasnya.

Kepala Satuan (Kasat) Lalu Lintas (Lantas) Polres Empat Lawang, AKP Maruly didampingi Kanit Regiden Ipda Gunawan, yang menemui ratusan pengemudi ojek gandeng di Dishubkominfo menyebut, pembinaan dan peringatan sebelumnya sudah diberikan oleh Polres Empat Lawang agar pengendara kendaraan bermotor taat akan aturan lalu lintas. “Pembinaan dan peringatan sudah kami lakukan beberapa bulan lalu, saat ini waktunya razia penindakan terhadap pelanggar disiplin,” ujar Gunawan.

Ia menambahkan, disiplin terhadap pengendara kendaraan di Empat Lawang, sudah waktunya dilaksanakan. Meskipun demikian, Polres Empat Lawang masih memberikan toleransi terhadap sopir ojek gandeng yang belum membayar pajak atau SIM nya belum diperpanjang.

“Kami kasih toleransi, untuk memperpanjang SIM ataupun membayar pajak motor mereka. Tapi setelah itu, harus tertib lagi dan tidak ada alasan lagi untuk tidak lengkap surat-surat kendaraannya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dishubkominfo Empat Lawang, H Choiri Badri menyatakan, usulan sopir ojek gandeng untuk pembuatan SIM massal, akan ditindaklanjuti. “Kita kumpulkan dulu, kemudian kita bantu mengusulkannya ke Gubernur Sumsel. Kita hanya bisa mengusulkan, bukan berjanji untuk pembuatannya,” tukasnya. (saukani)

——————————————

Sumber : Kabar Sumatera

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Ada Tes Kehamilan di SMA Empat Lawang ?

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Masih ingat dengan pro dan kontra tes keperawanan yang digagas Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Prabumulih beberapa waktu lalu ? wacana tersebut sempat mengundang pro dan kontra di Indonesia.

Kini kejadian serupa namun tak sama dilakukan di Kabupaten Empat Lawang. Di SMA Negeri 1 Tebing Tinggi, semua pelajar putri nya di wajibkan pihak sekolah untuk mengikuti tes kehamilan. Tes kehamilan ini dilakukan dengan menggunakan alat tes kehamilan atautes pack.

Tes kehamilan itu dilakukan pihak sekolah dengan alasan, untuk menepis isu adanya yang beredar kalau ada siswi di sekolah unggulan tersebut yang berbadan dua. “Informasinya, ada siswi di sekolah itu yang hamil diluar nikah. Itu diketahui, setelah siswi tersebut memeriksakan kesehatannya di RSUD Tebing Tinggi. Hasil pemeriksaan, ternyata siswi tersebut diketahui dalam kondisi hamil,” kata sumber koran ini yang dibincangi, kemarin.

Tes kehamilan tersebut jelas sumber koran ini yang tak mau disebutkan namanya tersebut, dilakukan untuk menepis isu miring yang telah beredar tersebut. “Tetapi kalau isu itu benar, tentu sangat disayangkan. Apalagi SMA Negeri 1 Tebing Tinggi, adalah sekolah unggulan sehingga patut dipertanyakan pengawasan guru dan orang tua,” ujarnya.

Terpisah, Kepala SMA Negeri 1 Tebing Tinggi, Ajrianto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya tes kehamilan bagi pelajar putri di sekolah yang dipimpinnya tersebut. enggan bekomentar banyak mengenai adanya isu yang mengatakan salah satu siswinya hamil diluar nikah. Sebab kata Ajrianto, itu baru isu dan belum ada buktinya. Namun ia tak mau berkomentar banyak dengan isu ada siswi di sekolah nya yang hamil.

“Kan belum ada buktinya, jadi tidak bisa kita bilang ya atau gimana, karena sekarang siswi bersangkutan belum masuk sekolah dengan alasan sakit,” jelasnya.

Diterangkan Ajrianto, siswi bersangkutan saat ini duduk di kelas X. Sejak beberapa pekan lalu, sudah meminta izin sakit. “Kita tunggu dia masuk dulu, kalau memang benar hamil ya terpaksa kita keluarkan dari sekolah,” tegasnya seraya mengaku sudah mendengar isu tak sedap itu beredar dikalangan sekolah.

Apakah tes kehamilan ini untuk menjawab isu tersebut ? Ajrianto membantahnya. Menurutnya, tes kehamilan tersebut dilaksanakan adalah bagian dari program Palang Merah Remaja (PMR).

Selain itu jelasnya, tak hanya tes kehamilan saja yang dilaksanakan. Sejumlah tes kesehatan lain juga dilakukan. “Bukan karena isu itu, tes ini sudah program kita dan hanya kebetulan saja bebarengan isu ada siswi hamil. Tapi siswi bersangkutan belum di tes, karena belum masuk,” elaknya lagi.

“Alhamdulillah, selain siswi bersangkutan tidak hadir, hasil tes kehamilan menunjukkan bahwa seluruh siswi SMA Negeri 1 unggulan negatif,” tukasnya. (saukani)

——————————————

Sumber : Kabar Sumatera

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Aneh, Gudang Ketahanan Pangan Dibangun di Tengah Hutan

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Lokasi bangunan gudang pemerintah yang diperuntukkan menyimpan pangan bagi korban bencana dipertanyakan warga.
Pasalnya, gudang yang dibangun dengan dana Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2012 itu berada di tengah hutan dan jauh pemukiman penduduk.

Pengamatan wartawan di lapangan, Kamis (16/10/2014), bangunan yang masuk kawasan eks trans 3A, Kelurahan Tanjung Kupang, Kecamatan Tebing Tinggi itu hingga kini belum difungsikan.
Karena terbengkalainya gudang itu, sehingga menjadi sorotan masyarakat. Warga pun mempertanyakan keberadaan dan kejelasan bangunan yang telah menghabiskan anggaran pemerintah Rp 300-an juta itu.

“Kok bangunannya di tengah hutan jauh dengan pemukiman penduduk. Katanya ini gudang ketahanan pangan, lagi pula jauh dengan sawah,” ungkap salah seorang warga setempat yang meminta namanya tidak disebutkan.

Dikatakannya, sejak dibangun gudang ini belum difungsikan sama sekali, bahkan pernah banyak atapnya lepas, namun diperbaiki kembali. Karena tidak difungsikan inilah, lanjutnya, kesannya bangunan mubazir.

“Memang dibangun beberapa tahun lalu, namun sejak itu belum sama sekali digunakan. Sangat disayangkan, karena biaya pembangunan ini tidaklah sedikit, namun tidak difungsikan,” katanya.

Menyikapi penilaian warga tidak layaknya lokasi bangunan gudang pemerintah yang diperuntukkan penyimpanan pangan bagi korban bencana. Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan (Distanaprik) Empat Lawang, Rudianto ketika dikonfirmasi via handphonenya, Kamis (16/10/2014) mengatakan, letak bangunan gudang pemerintah itu, bukanlah atas permintaan pihak Distanaprik yang dulunya Distanaprik dan Ketahanan Pangan, melainkan lokasi itu disediakan oleh pihak bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Setda Empat Lawang.

“Itulah lahan yang disediakan Tapem, jadi kita bangun di situ,” ungkapnya.

Dikatakannya, gudang tersebut dibangun tahun 2012 silam melalui lelang (tender,red) dengan nilai Rp 300-an juta. Pembangunan itu dari dana DAK yang bertujuan untuk penyimpanan bahan pangan ketika terjadinya bencana, seperti kebakaran ataupun bencana alam lainnya. Hanya saja, belum difungsikannya itu, karena masih perlu dianggarkan bahan pangannya, pengerjaan lantai serta pagar.

“Sekarang ini bangunan itu sudah diserahkan ke Badan Ketahanan Pangan, karena sudah dari Distanaprik. Ya, rencananya akan difungsikan, namun sebelumnya perlu dianggarkan bahan pangan yang akan distanbykan dalam gudang itu,” katanya. (wwk)

——————————————

Sumber : Sriwijaya Post

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Izin HGU PT SMS Diusut

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Empat Lawang melalui Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertambangan Energi (Dishutbutmaben) terus menindaklanjuti, dugaan penggarapan hutan lidung yang dijadikan perkebunan kelapa sawit oleh PT Sawit Mas Sejahtera (SMS).

Hutan lindung dimaksud, diduga masuk dalam wilayah Kabupaten Empat Lawang berbatasan dengan Kikim Barat, Kabupaten Lahat. “Beberapa waktu lalu, humas PT SMS datang kesini. Tapi mereka belum bisa memberikan keputusan dan penjelasan, karena masih harus melapor ke manajemen PT SMS di Jakarta, terkait dengan penggunaan kawasan hutan lindung tersebut,” kata Kadishutbuntamben Empat Lawang, H Susyanto Tunut, kemarin.

Langkah pengusutan sebutnya, tidak berhenti disitu saja. Pemkab Empat Lawang juga melayangkan surat ke Dinas Kehutanan (Dishut) dan Dinas Perkebunan (Disbun) Sumatera Selatan (Sumsel), serta Badan Pertanahan (BPN) Sumsel. Sebab, BPN Sumsel merupakan salah satu pihak yang mengeluarkan izin HGU kepada PT SMS. “Suratnya sudah kami layangkan, sejak dua minggu lalu namun sampai sekarang belum ada balasan,” jelasnya.

Ia menerangkan, izin pembukaan perkebunan lahan kelapa sawit kepada PT SMS saat itu diberikan Pemkab Lahat. Sebab saat itu, Empat Lawang masih bergabung dengan Kabupaten Lahat.
Setelah pemekaran, baru diketahui bahwa lahan yang sudah ditanami kelapa sawit tersebut, masuk dalam kawasan hutan lindung dan berada di wilayah Empat Lawang. “Kita tunggu dulu petunjuk selanjutnya,” tegasnya seraya memastikan Dishutamben akan terus mengusut izin HGU PT SMS tersebut.

Sementara itu, Sumardin, staf dokumen dan lisensi PT SMS saat dikonfirmasi membantah, kalau perusahaan mereka melakukan penanaman kelapa sawit di kawasan hutan lindung. Selain itu, ia juga membantah adanya surat teguran atau pemanggilan dari Dishutamben Pemkab Empat Lawang.

“Tidak ada areal perkebunan kita, yang masuk dalam kawasan hutan lindung. Surat panggilan maupun teguran dari Dishutamben Empat Lawang pun, tidak pernah kita terima,” ujarnya.

Untuk diketahui, hasil pemeriksaan tim Dishutbuntamben Empat Lawang, kuat dugaan PT SMS melakukan penanaman kelapa sawit di kawasan hutan lindung di wilayah Empat Lawang.

Tercatat ada lahan perkebunan PT SMS yang masuk dalam kawasan hutan lindung. Bahkan di kawasan itu, PT SMS sudah menanam dan memanen kelapa sawit yang mereka tanam. Bahkan, Dishutbuntamben Empat Lawang, sudah melakukan pengecekan ke lokasi. Mereka memastikan, 100 persen lahan kelapa sawit PT SMS dimaksud, masuk dalam kawasan hutan lindung. (saukani)

——————————————

Sumber : Kabar Sumatera

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Tenaga Kerja Banyak tak “Kreatif”

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Dinas Sosial Keternagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Empat Lawang mengakui, hingga 2014 ini angka pengangguran di Bumi Saling Keruangi Sangi Kerawati masih tinggi.
Kondisi ini terjadi karena pencari kerja di Empat Lawang, belum memiliki kualitas untuk meningkatkan kreatifitas, apalagi sebagian besar masyarakat Empat Lawang masih menggantungkan hidupnya di sektor perkebunan khususnya karet.

“Ya, kita akui masyarakat masih bertopang pada perkebunan karet. Sementara harga jual karet, turun. Ini disayangkan, padahal pencari kerja harusnya memiliki inisiatif membuka usaha mandiri,” sesal Kepala Dinsosnakertrans Empat Lawang, Edison Jaya, Selasa (14/10).

Ia menyebut, di Empat Lawang sudah menjadi budaya orang tua memberikan modal kepada anaknya dengan lahan untuk membuka kebun karet. Memang terang Edison, awalnya cukup menjanjikan sebab harga jual komoditi unggulan daerah itu tinggi dan stabil. Namun, saat harga anjlok di pasaran, membuat banyak petani karet menganggur apalagi para petani karet yang tidak memiliki lahan dan hanya mengandalkan upah sadap, dengan menggarap kebun karet milik warga lainnya.

Menurut Edison, sejauh ini pihaknya belum ada program untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, masalahnya Balai Latihan Kerja (BLK) belum ada di Empat Lawang.
Namun imbuhnya, pada anggaran tahun 2015, pihaknya akan menganggarkan pada APBD untuk melaksanakan pelatihan kerja dengan bekerjasama dengan Pemprov Sumsel maupun Pemkab Ogan Ilir (OI).

Pelatihan di luar ini sangat dibutuhkan, agar masyarakat Kabupaten Empat lawang dapat terampil dalam bekerja seperti membuka montir, menjadi penjahit dan juga ketrampilan kerja lainnya yakni salon.

“Harapannya mereka dapat bekerja tanpa mengandalkan perkebunan karet lagi,” jelas Edison.

Soal dana untuk modal usaha jelas Edison, Dinsosnakertrans bakal menggandeng instansi lainnya salah satunya Dinas Koperasi dan UKM. “Kita libatkan seluruh instansi lainnya nantinya untuk memberikan bantuan modal usaha, sehingga merfeka tidak berhenti pada pelatihan saja,” ucapnya.

Untuk pendirian Balai Latihan Kerja (BLK) di Kabupaten Empat lawang, Edison menyebut akan berkoordinasi dengan Kemenakertrans. Kemenakertrans akan diminta, untuk membuka BLK di Kabupaten Empat lawang.“Kita akan siapkan lahannya nanti, bisa jadi di jalan poros,” ujarnya.

Sementara itu Ansori (35), salah satu warga Tebing Tinggi, Empat Lawag mengaku, sejak berdirinya Empat Lawang rencana pendirian BLK sudah ada. Namun sepertinya hanya janji dan pemkab, dan belum serius betul direalisasikan. “Penting ada BLK, biar generasi muda bisa diasah kreatifitasnya. Kalau masalah modal tidak terlalu jadi soal, yang jelas keterampilan dahulu yang harus ditanamkan,” tukasnya. (saukani)

——————————————

Sumber : Kabar Sumatera

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar

Sapril, Teganya Engkau Habisi Anak Kandungmu !

Tebing Tinggi, Empat Lawang – “Hei, cepat turun Kau, jangan coba macam-macam di sini, ini rumah (kantor) Saya, kau harus ikuti aturan di sini,” hardik seorang petugas berpakaian preman kepada seseorang yang terborgol tangannya selepas kendaraan berhenti dan terparkir di halaman Mapolres Empat Lawang, Jum’at (10/10) jam 23.30 wib.

“nedo, Aku nedo kebelaghi, kalu tangan netak bahu siap mekol, amon aku ndak belaghi ngapo pulo Aku nak nyerahkan diri, Aku akan tanggungjawab apa yang telah aku lakukan,” Teriak seseorang tak kalah lantangnya yang diketahui bernama Sapril bin Mawi (35) Pelaku pembantai anak kandung warga Desa Pajar Menang Kecamatan Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang Sumatera selatan, dengan logat Lintangnya yang kental sesaat setelah turun dari kendaraan yang membawahnya dalam perjalan 2 jam dari Polsek Muara Pinang ke Mapolres Empat Lawang. Blits lampu kamera Wartawan mengiringinya saat petugas membawanya keruang pemeriksaan Mapolres Empat Lawang.

“tolong jangan diperlakukan kasar, Dia masih mengalami labil dan depresi berat,” Ucap seorang petugas kepolisian lain mengingatkan.

Dihadapan awak media Sapril mengakui semua perbuatannya, bahkan yang lebih miris lagi Sapril mengaku tidak menyesal telah membantai kedua putrinya. “Aku nedo nyesal, mangko lego galo, sanggup netak sangup memekol, aku membunuh dalam keadaan sadar, silahkan polisi tembak aku bilo perlu tegakan aku di tengah lapangan tembak mati bae,” tegasnya.

Sapril mengaku membunuh kedua anaknya lantaran kesal dengan Isterinya Winni (30) kembali menjadi biduan (penyanyi) profesi lamanya sebelum berumahtangga dengan dirinya.

“Aku purek (marah) amon ado yang ngatokan aku gilo, aku masih waras saat kejadian aku sadar apo yang dilakukan Amon lah mati galo, lajulah Dio nak jadi biduan atau pedio bae katek halangan agi, aku puas pulo, amon sekedar cerai masih ado ikatan anak masih biso ketemu agi,” tutur Sapril tanpa ada rasa beban menjelaskan alasan sehingga Ia tega menghabisi kedua putrinya.

****
Jum’at Sore (10/2014), atau kurang lebih jam 16.00 wib, Sapril baru pulang dari kebunnya di peladangan daerah Gumay kabupaten Lahat Sumatera selatan, yang dilakoninya selama lebih dari setahun, ada pete (petai) hasil kebunnya yang Ia bawah untuk dijual. Sebelum sampai ke Desa Pajar Menang Kecamatan Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang, Sapril pun mampir ke rumah Mertuanya di desa Muara Gelumpai Kecamatan Muara Payang Kabupaten Lahat, karena memang kedua putrinya Shinta yang berumur 5 tahun murid sekolah di Taman Kanank-kanak (TK) dan Sari baru berusia 1 tahun 3 bulan baru dipisah makan (netek) dengan ibunya bersama Istrinya Winni sedang berada di rumah mertuanya.

Namun alangkah kesalnya Sapril, ketika sampai di rumah mertuanya Dia hanya menjumpai kedua putrinya yang masih kecil-kecil itu tanpa bertemu dengan Winni sang istri. Sebab diketahui dari putrinya Sang istri ikut group orgen tunggal sebagai biduan.

“Mana ibu kalian?,” tanya Sapril kepada anak tertuanya Shinta.

“Umak pergi bawa 2 tas besak, ada yang jemput, katanya mau nyanyi jadi biduan,” jawab Shinta polos.

Sesaat Sapri terdiam, ada gejolak bathin di dalam dada dan sontak berkata kepada kedua putrinya, “Sudah, kalian berkemas ikut Bak pulang ke dusun (Pajar Menang),” katanya lirih.

Sesampai di Pajar Menang, Sapril bersama kedua anaknya disambut sukacita oleh Khoiria (50) bibi Sapril. Nenek kedua putrinya itu yang memang selama ini sendiri mendiami rumah panggung yang terbuat dari kayu beratapkan seng dan bertangga bambu semenjak cerai dengan suaminya dan tinggal di desa lain.

Ayah dan Ibu kandung Sapril sudah lama meninggal. Sapril memiliki 1 orang saudara perempuan seayah-seibu dan 2 orang saudara se-ayah lain ibu semuanya telah berumah tangga dan tinggal di luar Desa Pajar Menang. Semenjak itulah setiap pulang ke Pajar Menang Sapril selalu di rumah bibinya yang telah dianggap ibu kandungnya, apalagi rumah peninggalan ibu kandungnya telah Ia jual semenjak ibunya meninggal beberapa tahun silam. Bahkan kedua putrinya (Shinta dan Sari) pun lahir di rumah itu.

Di Pajar Menang Sapril dikenal seorang yang pendiam, tidak banyak bergaul, dan pribadi yang tertutup. Hanya kepada salahseorang adik laki-lakinya Ia sering bersendagurau, namun semenjak adiknya tersebut berumahtangga setahun yang silam dan bermalam di kebun Sapril pun jarang bertemu. Meski begitu Bibi Sapril sangat menyayanginya terlebih kepada kedua putri Sapril, karena memang tidak memiliki anak kandung yang tinggal di Pajar Menang.

****

“Saya sangat menyanyangi Sapril dan kedua anaknya, tidak diduga kejadian ini telah menimpah keluarga kami, terlalu berat rasanya cobaan ini,” kata Khoiria berusaha tegar menjelaskan kepada beberapa awak Media saat menyambangi rumah duka, Sabtu siang (11/10).

Dikatakannya, kejadian pembantaian itu tidak diketahuinya persis lantaran saat kejadian dirinya sedang melaksanakan Shalat Maghrib. Apalagi diakuinya memang dirinya tidak memiliki pendengaran yang baik akibat gangguan dikedua telinganya.

“Aku sembayang di ruangan depan, tak tau jika ada keributan di paon (dapur,red), aku ini memang pekak, kurang jelas mendengar,” terangnya terbata-bata.

Dia baru mengetahui setelah usai shalat dan hendak menuju dapur. Namun ketika kaki hendak melangkah menuju dapur Dia dihadang Sapril dan diberitahu bahwa kedua cucunya telah tewas.

“Sapril memintah Saya untuk diam, sebab Ia akan menyerahkan diri ke Polisi mempertanggungjawabkan perbuatannya,”.

“Umak, jangan kudai ke paon (dapur) anakku lah aku bunuh, umak diam kudai di siniah, aku nak nyerah ke polisi,” ujar Khoiria menirukan ucapan Sapril.

Setelah Sapril turun dari rumah melalui jalan belakang, Khoiriapun ke dapur dan menjumpai kedua cucunya telah tewas menggenaskan bersimbah darah dengan luka bacok disekujur tubuh . Tak mampu menahan kesedihan Ia pun berteriak mintah tolong ke warga, sontak teriakan Khoiria membuat geger isi kampung setelah mengetahui apa yang terjadi.

Sementara Paman Sapril, Imran (54), sangat menyesalkan peristiwa ini terjadi di dalam keluarganya. Sebab diketahuinya Sapril sangat menyayagi kedua Putrinya tersebut.

“Sebenarnya dia sangat sayang dengan kedua anaknya itu. Tapi entah karena pikiran pendek, sehingga tega membunuh kedua anaknya itu dijadikan sebagai pemecahan masalah keluarga yang dihadapi selama ini. Kami sangat menyesalkan kejadian ini, karena itu kami berharap Sapril sadar dan bertobat dengan tindakannya,” ungkapnya saat dibincangi di rumah duka.

Yang Ia ketahui, terakhir keponakannya itu berkebun di daerah Gumay Kabupaten Lahat, sehingga jarang pulang ke desa. Selama ini, kedua anaknya tinggal bersama isterinya. Hanya saja, dirinya tidak begitu jelas permasalahan yang merundung hubungan keluarga tersangka dengan sang istri.
“Memang dia boleh dikatakan kurang bergaul dengan masyarakat, sehingga tersangka tidak pernah cerita apapun masalah yang tengah dihadapi. Saya juga memang jarang bertemu dengan Sapril, karena kesibukan masing-masing,” terangnya. (ozi)

——————————————

Sampingan | Posted on by | 1 Komentar

Material TNKB Habis, Banyak Kendaraan di Empat Lawang Tanpa Plat

Tebing Tinggi, Empat Lawang – Hingga setahun terakhir, kendaraan di Empat Lawang masih banyak tanpa plat. Hal ini akibat kekosongan stok material TNKB untuk wilayah Sumsel.

Masyarakat, khususnya pemilik kendaraan dibuat bingung, karena tak kunjung turunnya plat Nopol kendaraan yang dibeli atau dikredit melalui leasing tertentu. Pasalnya, mereka khawatir dengan tidak adanya plat ini terkena tilang oleh kepolisian.

Informasi yang dihimpun, Kamis (9/10/2014), banyak kendaraan yang tanpa plat yang semestinya sudah memiliki plat Nopol. Hal ini dikarenakan, plat tersebut belum dikeluarkan oleh Samsat Polda Sumsel. Meskipun, STNK-nya sudah didapat, namun tanpa diiringi plat Nopol kendaraan tersebut.

Di STNK tersebut dilampirkan secarik kertas berisi informasi yang ditulis huruf balok dan distempel basah dari Polda Sumsel, sebagai berikut : “Matrial TNKB Habis Untuk Mencetak Flat Dikarenakan Ada Kekosongan Matrial Di Polda Sumsel. Harap Maklum”.

Menyikapi hal tersebut, Samsat Kabupaten Empat Lawang tidak bisa memastikan keluarnya plat kendaraan itu. Pihaknya hanya bisa menghimbau agar pemilik bersabar menunggu keluarnya plat Nopol yang dimaksud.

“Belum tau pasti ya, sekarang sudah ada atau tidak materialnya. Kita tunggu saja, masyarakat juga diminta bersabar menunggu,” ungkap salah seorang pegawai saat ditemui di kantor UPTD Samsat Kabupaten Empat Lawang, Kamis (9/10/2014).

Sementara Kepala UPTD Samsat Kabupaten Empat Lawang, Taufik Syahrial tidak bisa ditemui. Beberapa staf mengatakan atasannya itu tidak ada di kantor, meskipun kendaraannya masih terparkir di teras depan kantor tersebut. (wwk)

——————————————

Sumber : Sriwijaya Post

Dipublikasi di Berita Empat Lawang | Tinggalkan komentar